Teknologi Budidaya Ikan Hias Cupang

Teknologi Budidaya Ikan Hias Cupang

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan berbagai potensi sumberdaya alam yang melimpah dan belum terkelola dengan baik. Salah satu yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan sumberdaya alam tersebut adalah dengan usaha budidaya (aquakultur). Usaha budidaya akhir-akhir ini menjadi sesuatu yang banyak diminati oleh masyarakat, karena memiliki potensi yang cukup besar. Untuk mewujudkan adanya usaha budidaya dengan produksi yang tinggi tentunya tergantung pada beberapa faktor, salah satunya adalah faktor jenis pakan yang diberikan.

       Ikan Betta atau dengan sebutan populer ikan cupang (Betta splendens) merupakan salah satu ikan hias yang mempunyai nilai komersial, baik untuk pasar dalam negeri maupun pasar ekspor. Sebagai ikan hias yang gemar berantem, mempunyai penampilan yang menarik yaitu mempunyai sirip yang relatif panjang dengan spektrum warna yang bagus sedangkan pada ikan betta betina penampilannya kurang menarik, karena siripnya tidak panjang dan warnanya pun tidak cerah sehingga pada ikan betta, jenis kelamin jantan lebih tinggi dibanding jenis kelamin betina. Dengan dasarnya itulah diperlukan upaya memperbanyak produksi ikan Betta jantan, yang dapat dilakukan secara masal

     Popularitas cupang sebagai ikan hias tidak perlu di ragukan lagi. Penggemar ikan cupang bukan hanya untuk anak-anak, namun juga bapak-bapak dan para remaja. Sedikit berbeda dengan ikan hias lain, cupang di sukai bukan hanya karena kecantikannya, namun juga karena naluri berkelahinya. Debut cupang sebagai ikan aduan memang bukan berita baru. Di Negara asalnya, ikan ini terkenal sejak ratusan tahun yang lalu sebagai ikan laga. Di sana orang mengadu cupang sambil bertaruh uang. Berbeda dengan Sumatera (Barbus tetrazone) yang sekalipun agresif, namun bisa hidup berdampingan secara damai dengan sesamanya. Ikan cupang justru akan menunjukkan sifat agresifnya bila bertemu sesama jantan, sebaliknya cupang jantan akan diam atau bergerak lambat dan dekat-dekat apabila di campurkan dengan jenis ikan lain (Susanto, 1992).

Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dari kegiatan praktikum Budidaya Ikan Hias adalah untuk lebih mengetahui lagi teknik-teknik dalam pemeliharaan induk, pemijahan induk dan mengetahui penggunaan hormon 17 α-Metiltestoteron untuk rekayasa kelamin serta sekaligus pemeliharaan telur dan larva khususnya pada ikan cupang (Betta splendes). Kegunaan dari praktikum Budidaya Ikan Hias adalah untuk memperoleh beberapa informasi dan data-data penting dari cara budidaya ikan cupang yang di lihat dari segi lingkungannya.

TINJAUAN PUSTAKA

Klasifikasi dan Morfologi Ikan Cupang

Menurut Susanto (1992), adapun identifikasi dan klasifikasi dari ikan cupang (Betta splendes) adalah sebagai berikut :

Filum : Chordata

Subfilum : Craeniata

Class : Osteichthyes

Subclass : Actinopterygii

Super Ordo : Teleostei

Ordo : Percomorphoidei

Subordo : Anabantoidei

Famili : Anabantidae

Genus : Betta

Spesies : Betta splendes

Menurut Sudrajad (1989), ciri khusus ikan cupang (Betta splendens) dapat dilihat dari beberapa bentuk tubuhnya seperti bentuk badan memanjang dan warna yang beraneka ragam yakni cokelat, hijau, merah, biru, kuning, abu-abu, putih dan sebagainya, sirip punggung lebar dan terentang hingga ke belakang dengan warna cokelat kemerah-merahan dan dihiasi garis-garis berwarna-warni, sirip ekor berbentuk agak bulat dan berwarna seperti badannya serta dihiasi strip berwarna hijau, sirip perut panjang mengumbai dihiasi aneka warna dan lehernya berdasi dengan warna yang indah, ujung siripnya sering kali dihiasi warna putih susu, sirip analnya berwarna hijau kebiru-biruan dan memanjang. Lebih lanjut dikemukakannya adalah ikan cupang betina memiliki bentuk tubuh rata – rata lebih kecil daripada ikan cupang jantan. Ikan cupang jantan memiliki panjang tubuh dapat mencapai 5 – 9 cm, sedangkan ikan cupang betina lebih pendek dari ukuran tersebut.

Daya tarik lain dari ikan cupang adalah keindahan warna dan sirip-siripnya, terutama ikan cupang jantan. Ikan ini juga senang berkelahi terhadap sesamanya sehingga di juluki “fighting fish”, tetapi bersikap toleran terhadap ikan jenis lain. Toleransi ikan cupang terhadap temperatur berkisar 28C. Pertumbuhan ikan cupang relatif cepat sehingga masa pembesarannya tidak terlalu lama (Perkasa, 2001)

 

Pos-pos Terbaru