TAMSIL AYAM DAN TELOR UNTUK INVESTASI DAN KESEMPATAN KERJA

TAMSIL AYAM DAN TELOR UNTUK INVESTASI DAN KESEMPATAN KERJA

TAMSIL AYAM DAN TELOR UNTUK INVESTASI DAN KESEMPATAN KERJA

TAMSIL AYAM DAN TELOR UNTUK INVESTASI DAN KESEMPATAN KERJA
TAMSIL AYAM DAN TELOR UNTUK INVESTASI DAN KESEMPATAN KERJA

JAKARTA. 07072016. Mana lebih dahulu ada antara ayam dan telor?

Mungkin sebagian menjawab ayam, karena ayam betinalah yang bertelor, sehingga tentu ayam ada lebih dulu dari telor. Tetapi, mungkin pula sebagian lainnya menjawab telor ada lebih dulu dari ayam, sebab ayam berasal dari telor yang pecah menetas.

Fenomena ayam dan telor dapat digunakan sebagai tamsil untuk investasi dan kesempatan kerja sebagai kata benda. Mana lebih dahulu ada antara investasi dan kesempatan kerja?. Mungkin sebagian menjawab investasi, karena dari investasi akan menciptakan kesempatan kerja, sehingga tentunya investasi ada lebih dulu dari kesempatan kerja. Tetapi, mungkin pula sebagian lainnya menjawab kesempatan kerja ada lebih dulu dari investasi, sebab investasi berasal dari kesempatan kerja potensial yang telah berubah menjadi kesempatan kerja efektif yang menggerakkan investasi.

Berbicara ayam dan telor atau investasi dan kesempatan kerja pada dasarnya adalah membicarakan sebuah siklus kehidupan yang tidak berpangkal dan tidak berujung. Sehingga, tentunya tidak relevan lagi untuk membicarakan manakah yang ada lebih dahulu antara ayam dan telor atau antara investasi dan kesempatan kerja. Tetapi, justru lebih penting adalah memikirkan bagaimana melestarikan siklus kehidupannya. Bagaimana supaya ayam atau investasi harus sehat dan menghasilkan telor atau kesempatan kerja di satu sisi, dan di sisi lain bagaimana agar telor atau kesempatan kerja juga sehat dan akhirnya dapat berubah dari sesuatu yang terpendam tidak kelihatan menjadi sesuatu yang hidup dan bergerak dalam wujud ayam hidup atau investasi yang berputar.

Memang, ayam maupun investasi harus hidup, harus bergerak, harus berputar, harus “move on”. Perhatikan ketika ayam di potong atau investasi berhenti berputar, maka berhentilah kehidupan, dan berhentilah kesinambungan pergerakan investasi. Ini membuat ayam berhenti bertelor atau investasi berhenti membuka kesempatan kerja baru, sehingga menjadi terputuslah siklus kehidupan ayam dan telor, atau siklus kehidupan investasi dan kesempatan kerja. Sebaliknya, telor atau kesempatan kerja bersifat jangka pendek, apabila telornya busuk atau kesempatan kerja tidak tersedia alias pengangguran meningkat, maka tentulah ayam baru atau investasi baru tidak tercipta, tetapi setidaknya kita masih memiliki harapan atau peluang keluarnya telor baru atau kesempatan kerja baru dari ayam atau investasi yang sudah ada dan masih hidup, yang masih bergerak / berputar, dan yang masih “move on”.

Timbul pertanyaan, mungkinkan telor atau kesempatan kerja yang dikatakan bersifat jangka pendek tersebut, mengerahkan kekuatan di dalam tubuhnya sendiri untuk menghasilkan ayam dari telor, atau menciptakan investasi dari kesempatan kerja? Jawabannya sudah tentu adalah tidak mungkin!! Karena sesungguhnya hanya telor segar dan sehat yang dikeluarkan oleh ayam yang sudah ada, kemudian dierami (dihangati) oleh ayam itu sendiri atau mesin penetas telor, yang akan menetas menjadi ayam baru. Hal yang sama, hanya kesempatan kerja potensial yang layak (decent work) dari investasi yang sudah ada, kemudian dierami (dimodali) oleh investasi / industri itu sendiri, yang akan menetas menjadi investasi baru.

Penanaman modal baru melalui Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), apabila tanpa dikaitkan dengan industri yang sudah berjalan, tidak ubahnya seperti hanya mendatangkan telor, bukan ayam yang siap bertelor, atau tidak bedanya dengan hanya menciptakan kesempatan kerja potensial, bukan investasi yang siap menghasilkan kesempatan kerja efektif. Oleh karena itu, menjadi maha penting untuk menjaga keberlangsungan industri yang sudah ada agar tetap berjalan dan tumbuh berkembang sambil menciptakan investasi baru sebagai turunannya.

Dalam era persaingan global saat ini, maka memelihara keunggulan industri yang sudah ada harus menjadi prioritas utama. Sebab, sekali lengah maka industri lain sejenis dari negara lain akan mengunggulinya, dan memaksa industri yang sudah ada di dalam negeri tutup, serta pada akhirnya akan memicu terjadinya pemutusan hubungan kerja yang menyengsarakan rakyat Indonesia. Sekali industri yang sudah ada di dalam negeri tutup secara masif, maka jangan pernah bermimpi adanya investasi baru tumbuh di dalam negeri.

Kesadaran untuk memelihara keunggulan industri dalam negeri yang sudah ada alhamdulillah sudah mulai tumbuh, baik dari kalangan pemerintah, tidak terkecuali di kementerian ketenagakerjaan, maupun di kalangan pengusaha, yakni Kamar Dagang dan Industri (Kadin) serta Asosisi Pengusaha Indonesia (Apindo). Akhir akhir ini semakin digalakkan kerjasama peningkatan produktivitas industri melalui peningkatan kualitas pekerja dan pencari kerja, serta perbaikan kualitas hubungan industrial yang sehat dan produktif agar tercipta industri dalam negeri yang unggul secara berkelanjutan.

Perhatikan, kini Pemerintah bekerja keras untuk memelihara industri yang sudah ada sembari mengundang investasi baru dengan berbagai kemudahan. Hal ini tergambar dari prioritas pembangunan Indonesia pada pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan vokasi, serta melakukan deregulasi yang menghambat investasi. Dalam hal ini, termasuk deregulasi di bidang ketenagakerjaan dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 Tentang Pengupahan, yang ditujukan untuk menentukan upah minimum secara lebih terukur dan pasti. Di samping itu, Kementerian Ketenagakerjaan menyediakan Pelayanan Terpadu Satu Atap (PTSA) sebagai sarana untuk memberikan pelayanan publik secara lebih mudah, cepat, murah, dan transparan. Langkah-langkah strategis ini dimaksudkan untuk menekan perekonomian berbiaya tinggi yang merusak daya saing industri dalam negeri Indonesia.

Di pihak lain, kini Kadin / Apindo mulai bertindak pro aktif untuk menyusun Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Terbukti dengan dibentuknya Tim Kerja Kadin yang bertugas mengkaji pengalaman negara lain dalam menyusun KKNI dan SKKNI sebagai langkah terobosan untuk mempercepat penyusunan KKNI dan SKKNI sektor-sektor ekonomi di Indonesia.

 

Di samping itu, Kadin / Apindo sudah pro aktif pula untuk mengadakan

pelatihan tenaga kerja atau pencari kerja melalui pelatihan mandiri di tempat kerja, kerjasama dengan kementerian ketenagakerjaan, maupun melalui program pemagangan dengan sasaran sebesar 200.000 angkatan kerja pada tahun 2016.

 

Langkah-langkah strategis Kadin / Apindo tersebut di atas

sekaligus membuktikan bahwa telah tumbuh kesadaran di kalangan para pengusaha Indonesia tentang betapa pentingnya penguatan industri yang sudah ada sebelum mengeksekusi investasi baru.

Dengan lain perkataan, tentu lebih utama memelihara ayam atau investasi yang sudah ada daripada mengutamakan datangnya telor atau kesempatan kerja yang masih bersifat potensial. Untuk itu, Pemerintah tidak boleh abai terhadap kelangsungan industri yang telah ada. Jika abai, maka investasi baru yang diharapkan tidak ubahnya hanya sebuah fatamorgana saja.

Baca Juga :