Sistematis

 Sistematis

 Sistematis Sistematis

Syariat Islam bersifat sistematis artinya ia mewujudkan sejumlah doktrinnya bertalian dan berhubungan diantara satu dengan lainnya secara logis. Beberapa lembaganya saling berhubungan satu dengan lainnya.

Perintah sholat di dalam Al-Qur’an selalu diiringi dengan perintah menunaikan zakat. Perintah untuk makan dan minum, diiringi dengan kalimat : “Tetapi jangan berlebih-lebihan.”

Demikian pula dengan lembaganya, pengadilan dalam Islam tidak akan memberikan hukum potong tangan bagi pencuri bila keadaan masyarakat sedang kacau dan terjadi kelaparan, tidak akan memberikan hukuman rajam bagi pezina dan kebiasaan berpakaian yang belum diterapkan sebagaimana yang dikehendaki oleh hukum Islam itu sendiri.

Hukum Islam dengan lembaganya dengan demikian saling berhubungan satu sama lainnya. Hukum Islam tidak akan bisa dilaksanakan apabila diterapkan sebagian dan ditinggalkan sebagian lainnya.[10]

  1. Hukum Islam Bersifat Ta’abbudi dan Ta’aqquli

Sebagaimana kita ketahui, syariah Islam mencakup bidang mu’amalah dan bidang ibadah. Dalam bidang ibadah terkandung nilai-nilai ta’abbudi atau ghairu ma’qulat al-ma’na (irrasional), artinya manusia tidak boleh beribadah kecuali dengan apa yang telah disyari’atkan.[11]

Contohnya, sewaktu Umar melaksanakan haji bersama Rasulullah, Rasulullah mencium batu “hajar aswad”, melihat hal itu berucaplah Umar ra. “Kamu hanyalah sebuah batu, jika aku tidak melihat  Rasulullah menciummu, niscaya tidak akan aku lakukan hal ini.”

Selanjutnya dalam bidang mua’malah terkandung nilai-nilai ta’aqquli. Ta’aqquli ini bersifat duniawi yang maknanya dapat dipahami oleh nalar (ma’qulah al-ma’na) atau rasional, maka manusia dapat melakukannya dengan bantuan nalar dan pemikiran manusia.[12]

  1. Hukum Yang Ditetapkan Oleh Al-Qur’an Tidak Memberatkan

Di dalam al-Qur’an tidak satupun perintah Allah yang memberatkan hamba Nya. Jika Tuhan melarang manusia mengerjakan sesuatu, maka dibalik larangan itu akan ada hikmahnya. Walaupun demikian manusia masih diberi kelonggaran dalam hal-hal tertentu (darurat). Contohnya memakan bangkai adalah hal yang terlarang, namun dalam keadaan terpaksa, yaitu ketika tidak ada makanan lain, dan jiwa akan terancam, maka tindakan seperti itu diperbolehkan sebatas hanya memenuhi kebutuhan saat itu. Hal ini berarti bahwa hukum Islam bersifat elastis dan dapat berubah sesuai dengan persoalan waktu dan tempat.

  1. Humanisme (insaniyah)

Agama Islam dititahkan untuk kebaikan dan kemaslahatan masyarakat manusia baik individu maupun kolektif. Manusia mendapat amanat sebagai hamba dan khalifah-Nya. Dimana manusia dalam mengemban amanat itu haruslah memiliki pedoman, sehingga bisa selaras dengan kehendak Allah. Dan kehendak Allah pasti tidak akan membebani batas kemampuan manusia, bukankah Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah : 286

Ÿw ß#Ïk=s3ムª!$# $²¡øÿtR žwÎ) $ygyèó™ãr ………..

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya….”

Termasuk di dalam pemuliaan Islam terhadap ummat manusia, pengakuannya terhadap eksistensi (keberadaan) manusia, sebagaimana Allah menciptakan jasad, akal, ruh, hati, keinginan, naluri dan lain-lainnya. Islam tidak mengesampingkan hak yang dimiliki oleh salah satu aspek diantara aspek yang ada guna memperhitungkan yang lain.

Ciri kemanusiaan bagi Hukum Islam juga dimiliki oleh hukum yang lain, hanya saja Hukum Islam lebih tinggi dalam meletakkan nilai kemanusiaan. Hukum Islam tidak meletakkan negara sebagai segala-galanya dengan melarang kebebasan berbicara dan membatasi gerak-geriknya, serta mengorbankan diri demi kejayaan negaranya. Juga tidak demi ekonomi kemudian manusia harus tunduk pada hukum ekonomi demi kemajuan ekonomi dengan mengorbankan manusia demi ekonomi.

Maka Hasbi mengatakan bahwa hukum Islam adalah hukum yang memberi perhatian penuh kepada manusia dan kemanusiaan, memelihara yang bertautan dengan manusia, baik mengenai diri, ruh, akal, aqidah, fitrah, usaha, kekayaan, laki-laki perempuan, budak atau merdeka, baik untuk kepentingan perorangan maupun kolektif, dan berlaku sampai akhir zaman. Ringkasnya bahwa hukum Islam adalah syumul dan ta’amuq untuk kepentingan manusia.[13]

 

Sumber :

https://obatpenyakitherpes.id/teka-teki-di-android-terbaru/