Sebab-Sebab Timbulnya Tafsir Bi Al-Ra’y

SebabSebab Timbulnya Tafsir Bi Al-Ra’y

Pertama kali tafsir Al-Qur’an disampaikan secara syafāhiy (wicara, dari mulut ke mulut). Kemudian setelah dimulai pembukuan kitab-kitab kumpulan hadis, maka tafsir Al-Qur’an dibukukan bersama-sama dengan hadis, dan merupakan satu dari beberapa bab yang terkandung dalam kitab hadis. Pada masa itu belum ada penafsiran ayat per ayat, surat per surat, dari permulaan mushaf sampai dengan akhir, dan belum ada penafsiran per judul pembahasan.

Pada akhir pemerintahan Bani Umayyah dan awal pemerintahan Bani Abbasiyah, di tengah-tengah masa pentadwinan cabang-cabang ilmu pengetahuan, tafsir Al-Qur’an mulai memisahkan diri dari hadis, hidup mandiri secara utuh dan lengkap. Dalam artian, tiap-tiap ayat mendapat penafsiran, secara tertib menurut urutan mushhaf. Penafsiran Al-Qur’an pada masa-masa pertama memakai cara naqli, yaitu yang terkenal dengan istilah al-manhaj al-tafsīr bi al-ma’tsūr. Setelah itu para ahli ilmu menafsirkan Al-Qur’an menurut keahlian mereka masing-masing. Kemudian setelah lahirnya sekte-sekte aqidah didukung dengan semakin berkembangnya ilmu-ilmu kebahasaan dibuktikan dengan dijadikan ilmu tersebut sebagai disiplin ilmu tersendiri, bermuncullah penta’wilan terhadap ayat-ayat mutasyabihat, untuk menopang paham mereka masing-masing, meskipun sebenarnya bibit-bibit ta’wil Al-Qur’an sudah dimulai oleh beberapa sahabat, seperti ‘Ali bin Abi Ṭālib, ‘Abdullāh bin Mas’ūd, dan ‘Abdullāh bin ‘Abbās ra. Kemudian setelah itu, melalui Mu’tazilah, terjadilah perluasan tafsir bi al-ra’yi, sehingga tidak terjadi pertentangan antara nash Al-Qur’an dan akal pikiran, seperti kitab tafsir al-Kashshaf oleh al-Zamakhshāriy.[5]

Diantara mereka ada yang menulis tafsirnya dengan ungkapan yang indah dan menyusupkan madzhabnya ke dalam untaian kalimat yang dapat memperdaya banyak orang sebagaimana dilakukan penulis Tafsir al-kassyaf  dalam menyisipkan paham ke-mu’tazila-annya.[6]

  1. Pendapat Ulama Tentang Tafsir Bi Al-Ra’y

Setelah membahas  sebab-sebab timbulnya tafsir  bi al-ra’y, kami akan menjelaskan pendapat ulama tentang boleh tidaknya menafsiri Al-Qur’an bi al-ra’y beserta dengan alasannya. Sebagian ulama  mengatakan “ yang dimaksud dengan ra’yu disini adalah ijtihad”. Karena itu, tafsir ra’yu berarti tafsir Al-Qur’an berdasarkan ijtihad setelah mufassir mengetahui kata-kata dan uslub orang arab dalam berbicara, serta mengetahui lafal-lafal bahasa  arab dan pengertiannya.

Para ulama berbeda pendapat tentang kebolehan menafsirkan Al-Qur’an dengan ra’yu yang terbagi dalam dua pendapat :

Pertama    : tidak diperbolehkan menafsirkan Al-Qur’an dengan ra’yu karena tafsir ini harus bertitik tolak dari penyimakan. Itulah pendapat sebagian ulama.

Kedua      : Pendapatkan yang membolehkan penafsiran dengan ra’yu dengan syarat harus memenuhi persyaratan-persyaratan diatas. Ini adalah pendapat dari kebanyakan ulama (jumhur ulama).

sumber

https://mcitp70-643.com/princess-kingdom-apk/