Profil Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno

Profil Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno

Profil Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno

Profil Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno
Profil Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno

Guncangan-guncangan politik yang terjadi di Indonesia membuat Soekarno tertekan secara psikisnya. Soekarno khawatir dengan nasib rakyatnya yang telah digemblengnya selama bertahun-tahun ia sadar dengan posisinya yang tidak mungkin lagi dapat kembali seperti semula, munculnya Supersemar adalah wujud pengorbanan Soekarno terhadap rakyat Indonesia, Soekarno mengatakan,

    “Biarlah aku lepaskan jabatan kepresidenanku daripada harus menyaksikan perang saudara yang nantinya bisa dimanfaatkan kekuatan-kekuatan Nekolim”

Tanpa kompromi panjang, Soeharto menetapkan diri sebagai panglima ABRI

Di saat yang sama, ia pun tak memberi izin Pranoto Rekso Samudra untuk memenuhi panggilan Soekarno. Disisi lain keberadaan Soekarno justru menimbulkan kontroversi banyak pihak. Muncul tuduhan mengenai keterlibatannya dalam G30S PKI.

Hal-hal yang dilakukan Soeharto terus-menurus memojokkan Soekarno, bagaimana Soeharto membuat isu tentang PKI sebagai organisasi yang akan merongrong Pancasila sebagai ideologi bangsa, ia terus mendesak agar Soekarno membubarkan PKI.

Tapi Soekarno memiliki analisa lain mengenai PKI, PKI hanyalah sebuah organisasi politik yang mampu menjadi oposisi negara, PKI tidak melakukan kesalahan dalam hiruk-pikuknya politik di Indonesia. Soeharto terus mencari titik kelemahan Soekarno dan akhirnya keluar surat perintah Sebelas Maret yang menandai beralihnya kekuasaan negara dari Soekarno ke Soeharto yang menuai banyak perdebatan.

Semua peristiwa yang menimpa Soekarno saat ia sudah tak lagi menjadi presiden membuat kondisi kesehatannya kian menurun

Saat ia dirawat di Wisma Yaso, RSPAD dan RS Siti Khadijah yang semua terdapat rekaman catatan medis Soekarno dan hal itu juga yang membenarkan bahwa Soekarno meninggal tidak dibunuh. Akhirnya pada tanggal 21 Juni 1970 Sang Proklamator menghembuskan nafasnya yang terkahir. Dokter tak bisa berkata apa-apa ketika kondisi Soekarno sangat kritis. Sebelum Soekarno meninggal, ia sempat berkata pada anaknya Megawati. Lirih, tapi cukup bisa didengar,

    ”Anakku, simpan segala yang kau tahu, jangan kau ceritakan deritaku dan sakitku kepada rakyat, biarkan aku menjadi korban asal Indonesia bersatu. Ini aku lakukan demi kesatuan, persatuan, dan keutuhan, dan kejayaan bangsa. Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa”

Tuhan memang telah menentukan segalanya. Ahad 21 Juni 1970 pukul 07.00 WIB, sang Proklamator itu menutup mata selamanya

hal ini dituturkan oleh dr. Mahar Mardjono. Soekarno telah tiada, ia sudah lepas dari semua rasa sakit yang selama hampir 5 tahun menggerogoti. Soekarno telah sampai pada penantian, gerbang nirwana kematian, dan memulai ’kehidupan baru’, seiring dengan ketenangan yang abadi, tidur panjang yang menandakan kepulangan kepada sang khalik. Tak ada lagi siksa, lara, dan kecewa yang tergambar diwajahnya.

Semua memutih, seiring lepasnya nyawa dari raga, menyatu dalam jasad yang beku. Itulah Soekarno Putra Sang Fajar, Singa Podium, Paduka Yang Mulia, pemilik 26 gelar Doktor Honoris Causa. Semuanya lepas, teriring ucap duka kehilangan.

Baca juga artikel: