Perwujudan Perilaku Belajar

Perwujudan Perilaku Belajar

Manifestasi atau perwujudan perilaku belajar biasanya lebih sering tampak dalam perubahan-perubahan sebagai berikut :

  1. Kebiasaan

Setiaap individu (siswa) yang telah mengalami proses belajar, kebiasaan-kebiasaannya akan tampak berubah. Menurut Burghardt dalam Syah (1996), kebiasaan tersebut timbul karena proses penyusunan respons dengan penggunaan stimulasi yang berulang-ulang.

Contoh: siswa yang sedang belajar bahasa secara berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur bahasa yang keliru, akhirnya siswa tersebut akan terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar. Jadi, perubahan berbahasa yang baik tersebut merupakan perwujudan perilaku belajar siswa tadi.

  1. Keterampilan

Keterampilan adalah kegiatan yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular) yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah seperti menulis, mengetik, olahraga, dan sebagainya. Menurut Rebber (1988), keterampilan adalah kemampuan melakukan pola-pola tingkah laku yang kompleks dan tersusun rapi secara mulus dan sesuai dengan keadaan untuk mencapai hasil tertentu. Luasnya konotasi mengenai keterampilan sehingga mempengaruhi atau mendayagunakan orang lain juga dapat dianggap sebagai keterampilan.

Contoh: seorang siswa mampu mendayagunakan teman-temannya di kelas sehingga muncul aktifitas belajar bersama, siswa yang bersangkutan bisa dianggap terampil.

  1. Pengamatan

Pengamatan berarti proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera seperti mata dan telinga.

Contoh: seorang anak yang baru pertama kali mendengar siaran radio akan mengira bahwa penyiar radio tersebut benar-benar berada dalam kotak bersuara itu, akan tetapi lambat laun melalui proses belajar akan diketahuinya bahwa yang terdapat dalam radio adalah hanya suaranya saja, sementara penyiarnya berada jauh di studio penyiar.

  1. Berfikir Asosiatif dan Daya Ingat

Berfikir adalah merupakan berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan yang lainnya. Berfikir asosiatif merupakan proses pembentukan hubungan antara ransangan dengan respons.

Daya ingat adalah bertambahnya simpanan materi dalam memori serta meningkatnya kemampuan untuk menghubungkan materi tersebut dengan situasi yang sedang dihadapinya.

Contoh: seorang siswa mampu menjelaskan arti penting tanggal 12 Rabiul Awal. Kemampuan siswa tersebut dalam mengasosiasikan tanggal bersejarah itu dengan hari ulang tahun (maulid) Nabi Muhammad Saw hanya bisa didapat apabila ia telah mempelajari riwayat hidup beliau.

  1. Berpikir Rasional dan Kritis

Berpikir rasional dan kritis merupakan perwujudan perilaku belajar terutama yang bertalian dengan pemechan masalah. Pada umumnya siswa yang berpikir rasional akan menggunakan prinsp-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan bagaimana dan mengapa.

Contoh: siswa memecahkan suatu permasalahan melalui debat atau diskusi.

  1. Sikap

Dalam arti sempit sikap adalah pandangan atau kecenderungan mental. Pada prinsipnya sikap adalah suatu kecenderungan untuk siswa untuk bertindak dengan cara tertentu. Perwujudan belajar siswa dapat ditandai dengan munculnya kecenderungan-kecenderungan baru yang telah berubah (lebih maju, dan baik) terhadap suatu objek, tata nilai, peristiwa dan sebagainya.

  1. Inhibisi

Secara ringkas inhibisi adalah upaya pengurangan atau pencegahan timbulnya suatu respons tertentu karena adanya proses respons lain yang sedang berlangsung. Dalam hal belajar, yang dimaksud dengan inhibisi adalah kesanggupan siswa untuk mengurangi atau menghentikan tindakan yang tidak perlu, kemudian memilih melakukan tindakan lainnya yang lebih baik.

Contoh: seorang siswa yang telah mempelajari bahaya apabila tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas, tidak akan melanggar rambu-rambu lalu lintas dan tertib berkendara.

sumber :