Penjelasan Mengenai Pembagian Hukum Wadhi’

Penjelasan Mengenai Pembagian Hukum Wadhi'

Penjelasan Mengenai Pembagian Hukum Wadhi’

Penjelasan Mengenai Pembagian Hukum Wadhi'
Penjelasan Mengenai Pembagian Hukum Wadhi’

a. Pengertian Mani’

Secara etimologi mani’ berarti halangan, sedangkan secara terminologi adalah sifat zhahir yang dapat diukur yang keberadaannya menyebabkan tidak adanya hukum atau ketiadaan sebab.

b. Macam-macam Mani’

1. Dari segi pengaruhnya kepada hukum dan sebab
· Mani’ yang berpengaruh terhadap sabab, karena mani’ merusak hikmah yang ada pada sabab. Contoh: hutang menyebabkan batalnya kewajiban zakat, karena harta tersebut tidak mencapai satu nishab lagi (sabab).
· Mani’ yang berpengaruh terhadap hukum, yang artinya menolak adanya hukum meskipun ada sabab yang mengakibatkan adanya hukum.
a. Mani’ yang tidak berkumpul dengan hukum taklifi, yaitu sesuatu yang menyebabkan hilangnya akal sehingga menyebabkan terhalangnya taklif.
b. Mani’ yang bersamaan dengan ahliyyah taklif, tetapi mani’ itu menghilangkan taklif.
c. Mani’ yang menghilangkan kemestian taklif, dan membawa seseorang untuk bersikap memilih.
Ulama Hanafiyah membagi mani’ kepada lima macam, yaitu:
1. Mani’ yang menyebabkan tidak berlakunya akad, seperti objek jual beli tidak ada.
2. Mani’ yang menyebabkan akad tidak sempurna bagi orang ketiga di luar akad, seperti Bai’ Al Fudhuli.
3. Mani’ memulai hukum, seperti khiyar Syarth dalam jual beli.
4. Mani’ untuk menyempurnakan hukum, seperti keberadaan khiyar Ru’yah dalam jual beli.
5. Mani’ yang menghalangi sifat mengikat suatu hukum, seperti adanya cacat dalam barang yang dibeli.

Baca Juga: Kalimat Syahadat

Sah, Fasad, dan Batal

a. Pengertian Sah, Fasad, dan Batal

Secara etimologi sah atau Shihhah atau shahih artinya sakit. Secara terminologi, sah yaitu tercapainya sesuatu yang diharapkan secara syara’, apabila sebabnya ada, syaratnya terpenuhi, halangan tidak ada, dan berhasil memenuhi kehendak syara’ pada perbuatan itu. Secara etimologi fasad berarti perubahan sesuatu dari keadaan yang semestinya. Secara terminologi menurut jumhur ulama sama dengan batal. Sedangkan menurut ulama Hanafiyah adalah kerusakan yang tertuju kepada salah satu sifat, sedangkan hukum asal perbuatan itu disyari’atkan.

b.Status Sah, fasad, dan batal

Wahbah Al Zuhaili mengatakan bahwa yang terkuat dalam pendapat mayoritas ulama ushul fiqh yang mengatakan bahwa sah, fasad, dan batal termasuk dalam hukum wadh’i karena yang dimaksudkan dengan sah adalah tercapainya ketentuan syara’ dalam suatu perbuatan, dan batal atau fasad, tidak terdapatnya pengaruh syara’ dalam perbuatan tersebut.

’Azimah

a. Pengertian ‘Azimah

Secara etimologi ‘azimah adalah tekad yang kuat. Sedangkan secara terminologi adalah hukum-hukum yang telah disyari’atkan Allah kepada seluruh hambaNya sejak semula. Jumhur ulama menyatakan bahwa yang termasuk ‘azimah adalah kelima hukum taklifi yaitu wajib, sunah, haram, makruh, dan mubah.

b.Macam-macam ‘Azimah

1. Hukum yang disyari’atkan sejak semula untuk kemashlahatan umat manusia seluruhnya, seperti ibadah dan mu’amalah.
2. Hukum yang disyari’atkan karena ada sesuatu sebab yang muncul, seperti hukum mencaci berhala atau sesembahan agama lain.
3. Hukum yang disyari’atkan sebagai pembatal hukum yang sebelumnya, seperti peristiwa pengalihan arah kiblat.
4. Hukum pengecualian dari hukum-hukum yang umum, seperti larangan mengawini wanita yang bersuami dengan lafaz yang bersifat umum, kemudian dikecualikan dengan wanita-wanita yang menjadi budak (An Nisaa’:24).