Pengertian Lingkungan Hidup

Pengertian Lingkungan Hidup

Kelangsungan hidup manusia tergantung dari  keutuhan lingkungannya, sebaliknya keutuhan lingkungan tergantung bagaimana kearifan manusia dalam mengelolanya. Oleh karena itu, lingkungan hidup tidak semata‑mata dipandang sebagai penyedia sumber daya alam serta sebagai daya dukung kehidupan yang harus dieksploitasi, tetapi juga sebagai tempat hidup yang mensyaratkan adanya keserasian dan keseimbangan antara manusia dengan lingkungan hidup. Masalah lingkungan hidup dapat muncul karena adanya pemanfaatan sumber daya alam dan jasa‑jasa lingkungan yang berlebihan sehingga meningkatkan berbagai tekanan terhadap lingkungan hidup, baik dalam bentuk kelangkaan sumber daya dan pencemaran maupun kerusakan lingkungan lainnya.

Berbagai masalah lingkungan  hidup, terutama yang berkaitan dengan pemanasan global, kepunahan jenis flora dan fauna serta melebarnya lubang lapisan ozon, pencemaran dan kemiskinan, telah menjadi masalah global karena meliputi seluruh bagian bumi. Tak satu pun bangsa dan negara di dunia yang luput dari dampak yang ditimbulkan oleh berbagai masalah tersebut.

Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya (Undang-Undang No. 23 tahun 1997, pasal 1, ayat 1). Lingkungan hidup terdiri dari: lingkungan hidup alami, buatan atau binaan, dan sosial yang ketiganya saling berkaitan yaitu merupakan ekosistem, teknosistem, dan sosiosistem (Taqim, et al, 2000: 1).

Lingkungan hidup alami adalah lingkungan yang tatanan ekosistemnya belum mendapatkan dampak dari kegiatan manusia. Lingkungan hidup tetap dapat disebut alami selama manusia yang terdapat di dalamnya tidak bersikap dan berperilaku mendominasi lingkungan hidup atau ekosistem di mana dia berada (Soerjani, 1997: 8). Lingkungan hidup alam atau ekosistem terdiri atas lingkungan hidup fisik dan lingkungan hidup hayati, manusia sebagai bagian dari lingkungan hidup hayati (Hardjasoemantri, 1993: 9). Konsep sentral dalam ekologi ialah ekosistem yaitu terbentuk hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya (Soemarwoto, 2003: 23). Pada ekosistem tidak saja terjadi interaksi, tetapi juga saling ketergantungan baik antar makhluk hidup (sebagai komponen biotik) yang satu dengan yang lainnya maupun dengan lingkungannya.

Lingkungan hidup memberikan dukungan terhadap kehidupan dan kesejahteraan bukan saja terhadap manusia tetapi juga bagi makhluk hidup yang lain, seperti hewan dan tumbuhan karena itu lingkungan hidup perlu dijaga, diperhatikan hubungan timbal balik makhluk sesamanya, dan dengan benda-benda mati di sekitarnya. Pada pengelolaan lingkungan hidup yang baik, tidak hanya manusia yang harus sejahtera tetapi juga makhluk hidup lainnya, kesejahteraan juga ditujukan kepada makhluk yang lain. Makhluk hidup yang lain adalah juga umat-umat yang sama kedudukannya dengan manusia. Sebagaimana firman Allah:

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan sayapnya melainkan umat-umat seperti kamu” (Q.S  Al  An’am  :38 ).

    Lingkungan hidup manusia adalah semua komponen ekosistem di dalamnya terdapat atau ada keterlibatan kepentingan manusia. Dengan kata lain bahwa manusia tidak terpisah dari segala zat, unsur, dan keadaan yang ada dalam lingkungan hidupnya sehingga terdapat hubungan timbal balik yang membentuk suatu ekosistem.

    Kenyataannya ekosistem dalam lingkungan hidup dilihat secara antropo-sentrik, di mana tidak lagi  bersifat netral, melainkan menggunakan ukuran-ukuran subyektif manusia. Padahal ekosistem dalam lingkungan hidup dicirikan oleh sifat yang merupakan totalitas dari semua komponennya, yang ditentukan oleh interaksi, baik yang tercermin dalam susunan maupun fungsi dari semua komponennya. Jadi pada hakikatnya ekosistem atau lingkungan hidup itu mengalami dinamika yang teratur. Artinya ada perubahan yang terus-menerus yang selalu mengikuti keteraturan. Seolah-olah sistem itu mengatur sendiri yang bersifat homeostatis. Tetapi keadaan stabil  ini pun tidak berlangsung terus, karena perubahan-perubahan baru selalu akan terjadi lagi.

 

Sumber :

https://finbarroreilly.com/