Pandangan Negatif

Pandangan Negatif                                                                 

HMM dikenal luas oleh para pengkaji dari Eropa dan selanjutnya menjadi obyek penelitian ilmiah setelah beberapa bagiannya diterjemahkan oleh James Low dan diterbitkan dalam JIAEA, Jilid 3, pada tahun 1849. James Low sendiri terkesan dengan karya ini sehingga dia sendiri mengembara di negeri Kedah untuk mencari tempat-tempat yang disebutkan di dalam karya ini: “… I am happy to add that my observations have verified pretty closely our author’s accounts of localities, and not only in the above instance, but in those which he brings forward in the subsequent parts of his work” (Salleh, 1998).

Beberapa pengkaji dari Eropa memandang rendah terhadap karya ini berdasarkan penilaian dan pandangan yang sempit. Segala unsur persamaan dengan karya-karya lain seperti Hikayat Raja PasaiHikayat AcehSulalat-us-Salatin, dan sebagainya, dianggap sebagai peniruan (Salleh, 1998). Penilaian negatif dari para pengkaji Eropa mulai muncul pada tahun 1856, ketika John Crawfurd  menanggapi penilaian tinggi yang diberikan oleh James Low dengan pernyataan negatif: “My friend, Colonel James Low, translated a Malay manuscript, entitels ‘Annals of Queda’, but his production is a dateless tissue of rank fable, from which not a grain of reliable knowledge can be gathered” (Salleh, 1998).

Winstedt merujuk pada HMM ketika membicarakan tentang sejarah negeri Kedah meskipun pandangannya negatif. Dalam sebuah tulisan yang diterbitkan pada tahun 1920, Winstedt menyatakan bahwa cerita tentang Raja Bersiung dalam HMM menunjukkan bahwa leluhur dinasti Melayu di Kedah bukan orang Melayu (Salleh, 1998). Pada tahun 1938, Winstedt menerbitkan sebuah tulisan lagi yang menafikan pandangan positif para pengkaji dari Barat yang lain dengan mengungkapkan lima hasil analisis, yaitu:

  1. Cerita tentang Raja Buluh Betung adalah mitos setempat
  2. Kisah Raja Bersiung berasal dari mitos India
  3. Pengembaraan Syeh Abdullah dengan penghulu setan ditulis oleh seorang pengarang Jawa [sic]
  4. Adanya penyebutan tentang Seri Rama dan Hanuman merupakan pengaruh dari wayang kulit Siam
  5. Penyebutan tentang Nabi Allah Sulaiman adalah hasil dari pengaruh Islam (Salleh, 1998)

Pandangan Winstedt terhadap HMM tidak pernah berubah. Dalam sebuah tulisan yang terbit dalam JRASMB pada tahun 1940, dan diterbitkan ulang dalam JRSAMB pada tahun 1958 serta sebagai sebuah buku oleh Oxford University Press pada tahun 1966, Winstedt menyatakan bahwa jika saja HMM tidak mencantumkan silsilah penguasa Kedah, maka karya ini tidak akan pernah disebut sebagai “Kedah Annals” atau diterima sebagai karya sejarah yang serius” (Fang, 1975:226, Salleh, 1998). Pada tahun 1961, Winstedt mengulangi lagi pandangan negatifnya: “The work is full of omissions, gross anachronism and errors” (Salleh, 1998).

J.C. Bottoms, dalam sebuah makalah berjudul “Malay Historical Works”, kemungkinan besar juga merujuk HMM ketika menyatakan bahwa sejarah bagi orang Melayu bukan merupakan ilmu atau seni, melainkan hiburan (Salleh, 1998). Pada tahun 1963, C. Hooykas menyatakan dalam Perintis Sastra bahwa HMM bukan merupakan sebuah sumber sejarah melainkan kumpulan cerita yang aneh-aneh (Salleh, 1998).