KRONOLOGI TRITURA

KRONOLOGI TRITURA

KRONOLOGI TRITURA

KRONOLOGI TRITURA

Melihat gerak-gerik Soekarno yang tak kunjung tegas dalam membubarkan PKI, beberapa organisasi massa dan partai politik membentuk Komando Aksi Pengganyangan Kontra Revolusioner pada 23 Oktober 1965. Anggotanya adalah NU, IPKI, Partai Katholik, PSSI dan PNI Osa-Osep. Sementara dari kalangan ormas adalah Muhammadiyah, Sentral Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia (SOKSI). Komando ini lalu berubah menjadi Front Pancasila yang mulai melakukan aksi-aksi menuntut pembubaran PKI dan membantu ABRI dalam memulihkan kemananan dan ketertiban.

  • 25 OKTOBER 1965 (MUNCULNYA KAMI)

Pada 25 Oktober 1965, terbentuklah suatu wadah yang berisikan mahasiswa-mahasiswa yang menentang keberadaan PKI yaitu Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). KAMI hadir merupakan perpanjangan dari Front Pancasila yang sebelumnya telah dibentuk oleh parpol dan ormas yang mendukung pembubaran PKI.

Sebelum KAMI terbentuk, Mahasiswa di seluruh Indonesia sebenarnya telah memiliki satu wadah lebih dulu bernama PPMI (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia). Saat itu PPMI menggelar rapat untuk menentukan sikap terkait keberadaan PKI pada 10 hingga 23 Oktober 1965. Dalam perjalanannya, PPMI tidak mudah untuk menemui kata sepakat dengan para anngotanya.

Terdapat juga unsur kiri (pro PKI) yang cukup kuat di PPMI seperti Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), Gerakan Mahasiswa Indonesia (Germindo), dan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (Perhimi) dan Gerkaan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Sementara sebagian besar merupakan unsur yang ingin PKI dibubarkan yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI) serta Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Kubu pro pembubaran PKI akhirnya mengadukan masalah ini kepada Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP), Sjarif Thajeb. Sjarif pun mengusulkan untuk mengadakan pertemuan di antara seluruh Perhimpunan Mahasiswa pada 25 Oktober 1965. Bapak menteri bersedia menyediakan rumahnya untuk menggelar acara tersebut.

Dalam pertemuan akbar PPMI itu, ternyata dari kubu kiri (pro PKI) hanya terdapat GMNI tanpa kehadiran dari CGMII, Germindo dan Perhimi. Hasilnya, GMNI harus menghadapi sendiri argument-argumen dari kubu pro-pembubaran PKI. GMNI adalah organisasi mahasiswa pendukung Partai Nasional Indonesia (PNI) yang merupakan partai pendukung Sukarno. Saat itu, sikap GMNI menunggu instruksi dari PNI.

Menteri Sjarif kemudian memberikan jalan tengah supaya membentuk forum baru untuk memberikan respons keras terhadap peristiwa G 30 S PKI, tetapi dengan syarat GMNI harus menduduki pimpinan utama dalam kepengurusan.

Saat itu terbentuklah KAMI secara resmi, meski masih ada PPMI. Kemunculan KAMI segera diikuti oleh kemunculan sejumlah wadah perhimpunan serupa. Beberapa di antaranya adalah Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pelajar Pemuda Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Buruh Indonesia (KABI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI), Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI) dan lain-lain.

  • 10 JANUARI 1966 (MUNCUL TRITURA PERTAMA KALI)

Kemunculan kesatuan-kesatuan aksi menyebar sangat cepat karena didukung oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pada tanggal 10 Januari 1966, aksi demonstrasi pecah di Jakarta. Aksi ini sebagai respons terhadap naiknya harga-harga semua kebutuhan rakyat, terutama BBM. Aksi yang dipelopori KAMI dan Front Pancasila ini untuk pertama kalinya menyerukan Tiga Tuntutan Rakyat, yakni berisi:

  1. Pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya
  2. Perombakan Kabinet Dwikora (bersihkan kabinet dari unsur-unsur PKI)
  3. Turunkan harga

Tiga tuntutan rakyat ini kemudian dikenal sebagai Tritura. Tuntutan pertama dan kedua sebelumnya sudah pernah diserukan oleh Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan 30 September (KAP-Gestapu). Tuntutan ketiga baru diserukan saat 10 Januari 1966.

Keadaan ekonomi sebelum tanggal 10 Januari 1966 sangat menyulitkan masyarakat. Warga terhimpit harga-harga kebutuhan yang melambung tinggi. Sikap pemerintah seperti standar ganda. Di satu sisi mereka melarang kenaikan harga-harga, namun di sisi lain mereka menaikkan sendiri harga dan tariff sejumlah bahan pokok. Contohnya, pada 3 Januari, pemerintah menaikkan harga BBM menjadi Rp 1000 per liter, padahal pemerintah baru saja menaikkan harganya menjadi Rp 250 per liter pada November 1965.

Menanggapi demonstrasi itu, pada pukul 16.00 WIB, Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh akhirnya menemui mahasiswa. Mahasiswa pun menyampaikan Tritura kepada Chaerul Saleh. Chaerul Saleh pun menanggapinya dan berkata,” Segalanya tergantung kemauan Presiden Soekarno, kabinet bisa diubah harga-harga bisa diturunkan, asal Presiden Soekarno memerintahkannya maka semua akan dilaksanakan.”

Demonstrasi pun berakhir setelah mendengar pernyataan Chaerul Saleh tersebut. Aksi itu selesai sekitar pukul 17.00 WIB. Meski demikian, mahasiswa tetap menyerukan teriakan-teriakan tritura dalam perjalanan pulang, Mereka juga menolak membayar tarif bus sebesar Rp 1000 yang diputuskan pemerintah dan menyerukan membayar Rp 200.

  • 13 JANUARI 1966 (DEMONSTRASI TRITURA)

Demonstrasi hari pertama telah selesai, lalu dilanjutkan pada 11 Januari 1966. Mahasiswa Jakarta melakukan aksi mogok kuliah. Aksi ini semakin menjadi karena pada 13 Januari 1966, di Bandung juga pecah demonstrasi. Massa mahasiswa dari Bandung mencetuskan “Resolusi Amanat Penderitaan Rakyat” yang isinya di antaranya adalah solidaritas mahasiswa Bandung terhadap aksi-aksi yang dilancarkan mahasiswa di Jakarta serta memperkuat tuntutan-tuntutan pada 10 Januari 2019.

Resolusi Amanat Penederitaan Rakyat disampaikan kepada Gubernur Jawa Barat, Mashudi untuk kemudian diteruskan kepada Presiden Soekarno. Sejak tanggal 10 hingga 13 Januari 1966, terjadi demonstrasi Tritura besar-besaran di Jakarta dan Bandung. Setelah tanggal tersebut, juga muncul aksi-aksi serupa di beberapa kota besar lainnya.

Pemerintah memberikan reaks terhadap aksi demonstrasi tritura tersebut. Pada tanggal 15 Januari 1966, KAMI diundang untuk hadir dalam sidang paripurana Kabinet Dwikora. Presiden Soekarno berkata,”Siapa yang mau ikut saya, ikutlah. Susunlah Barisanmu, jangan bertindak liar, tunggu komando.”

  • 24 FEBRUARI 1966 (RESHUFFLE KABINET DWIKORA)

Pada tanggal 21 Februari Presiden Soekarno mengumumkan akan me-reshuffle Kabinet Dwikora. Selanjutnya pelantikan para menteri dilakukan pada 21 Februari 1966. Keputusan reshuffle kabinet ini mengundang amarah bagi mahasiswa karena Soekarno masih menyertakan simpatisan-simpatisan PKI dalam kabinetnya. Selain itu, Soekarno juga menyingkirkan Jenderal A.H Nasution sebagai Menteri Hankam,yang gigih menentang G 30 S PKI.

Mahasiswa sangat kecewa dengan Soekarno. Mereka kembali turun ke jalan dan memacetkan lalu lintas. Mobil-mobil dikempeskan bannya di jalan-jalan sehingga menteri-menteri yang akan dilantik terhambat menuju istana. Barisan demonstran berhasil menembus penjagaan tentara hingga depan pintu istana. Mereka bahkan berhadapan langsung dengan Pasukan Tjakrabirawa (Pasukan Khusus Pengawal Presiden). Bentrokan antara dua kubu pun tak terelakan. Akibat bentrokan tersebut gugur satu mahasiwa bernama Arief Rahman Hakim yang merupakan Mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Arif tewas diduga akibat ditembak oleh pasukan Tjakrabirawa.

Tewasnya Arif juga bersamaan dengan anggota KAPPI, Siti Zubaedah yang berasal dari Bandung. Selain itu, dalam insiden sehari sebelumnya, jatuh pula 9 korban mahasiswa yang menderita luka dari peluru pasukan Tjakrabirawa. Arif Rahman Hakim menjadi simbol perjuangan mahasiswa sejak saat itu. Jaket kuning bersimbah darah diarak oleh para mahasiswa berkeliling Jakarta. Mereka bermaksud membangkitkan semangat rakyat untuk menurunkan Presiden Soekarno

  • 25 FEBRUARI 1966 (KAMI DIBUBARKAN)

Setelah jatuhnya korban dari kalangan mahasiswa, Presiden Soekarno mengadakan sidang lengkap Komando Operasi Ganyang Malaysia (KOGAM) untuk membahas tindakan-tindakan yang dilakukan mahasiswa. Sidang tersebut memutuskan untuk pembubaran KAMI per tanggal 26 Februari 1966. Selain itu, di Jakarta juga diberlakukan jam malam berlaku sejak 21.00 WIB hingga 06.00 WIB, dan larangan berkumpul lebih dari lima orang.

Pembubaran KAMI langsung mendapat penolakan dari mahasiswa Bandung. Tidak lama setelah keputusan tersebut dikeluarkan, tepatnya pukul 00.00 WIB pada 25 Februari, mahasiswa Bandung telah mengeluarkan pernyataan penolakan. Mereka menganggap rekan-rekan mahasiswa Jakarta telah mengalami tekanan berat dari pemerintah, maka mahasiswa Bandung mengirim sejumlah personil untuk ke Jakarta sebagai bala bantuan.

Pada tanggal 7 Maret 1966, Presiden Soekarno tidak puas dengan pembubaran KAMI. Maka pada hari selanjutnya Soekarno memberikan perintah harian yang berisi di antaranya, bahwa seluruh rakyat Indonesia harus patuh kepadanya, karena ia adalah Kepala Negara, bahwa setiap tindakan papaun yang diambilnya merupakan kehendaknya sendiri, bukan hasil tuntutan maupun desakan dari pihak lain dan bahwa masalah G 30 S PKI akan segera diselesaikan setelah keadaan menjadi tenang.

Meski KAMI telah dibubarkan, sejatinya masih banyak simpatisan-simpatisan dari Kesatuan Aksi tersebut dari kalangan mahasiswa. Berbagai aksi demonstrasi tetap dilakukanmeski kerap beradu fisik dengan Barisan Soekarno (yang diciptakan para pendukung Soekarno dan partai-partai pendukung Soekarno). Pada 8 Maret 1966, bahkan massa KAMI dan KAPPI melakukan aksi di Departemen Luar Negeri dan Kantor Berita RRT Hsin Hua (namun gagal).

  • 11 MARET 1966 (SUPERSEMAR)

Aksi Tritura mencapai puncaknya pada 11 Maret 1966. Presiden Soekarno diagendakan melakukan sidang pelantikan Kabinet “Dwikora yabg Disempurnakan” atau juga dikenal sebagai “Kabinet 100 menteri”, merujuk kepada jumlah menteri yang hadir saat itu.

Sejak pagi, mahasiswa sudah melakukan aksi turun ke jalan. Sekali lagi mereka melakukan aksi mengempesi ban mobil-mobil untuk memacetkan jalan, termasuk mobil para menteri. Demonstrasi besar-besaran ini menjadi titik kejut bagi Soekarno yang segera meninggalkan Sidang menuju Istana Bogor.

Pasalnya, ia mendapat laporan dari Panglima Tjakrabirawa, Jenderal Sabur, bahwa ada ‘pasukan liar’ dan pasukan ‘tak dikenal’ yang diisukan akan mengepung istana. Ia pun bergegas menuju Istana Bogor menggunakan Helikopter bersama Wakil Perdana Menteri I, Dr. Soebandrio dan Wakil Perdana Menteri III, Chaerul Saleh. Sementara sidang pelantikan kabinet dilanjutkan oleh Wakil Perdana Menteri II, Dr. J.Leimena.

Pada malam harinya terbitlah Surat Perintah Sebelas Maret atau yang dikenal sebagai Supersemar yang dibuat Soekarno ‘bersama’ 3 orang perwira tinggi Angkatan Darat suruhan Mayor Jendral Soeharto. Ketiga perwira itu adalah Muhammad Jusuf, Amir Machmud dan Basuki Rachmat. Supersemar berisi perintah dari Soekarno kepada Soeharto agar mengambil segala tindakan untuk mengembalikan stabilitas negara.

Meski dipenuhi berbagai kontroversi di dalamnya, Supersemar bisa dibilang menjadi akhir perjuangan tritura karena Soeharto meTrituranggunakan surat itu untuk membubarkan PKI sehari setelahnya, Beberapa hari kemudian, Soeharto turut menangkap 15 menteri ‘Kabinet yang Disempurnakan’ pendukung Seokarno. Ia juga memulangkan anggota Tjakrabirawa. Selain itu, Supersemar juga mengamantkan agar meingkatkan perekonomian Indonesia seingga terwujud kesejahteraan sosial dan ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan Surat Perintah Sebelas Maret, Soeharto mulai memasuki fase kekuasaan sepenuhnya. Presiden Soekarno semakin tergerus dan perlahan-lahan tidak dipercaya masyarakat. Massa KAMI dan KAPPI tetap melakukan demonstrasi lanjutan pada 1-3 Oktober 1966. Kali ini mereka menuntut agar Presiden Soekarno memberi pertanggungjawaban terhadap peristiwa Gerakan 30 September 1965. Aksi semakin membesar pada 30 November dan tercatat 200 ribu mahasiswa mendesak agar Presiden Soekarno diadili pada aksi 9-12 Desember 1966.


Sumber: https://www.nub4life.net/flywings-apk/