Hakekat Kewibawaan Seseorang

Hakekat Kewibawaan Seseorang

Hakekat Kewibawaan Seseorang

Hakekat Kewibawaan Seseorang
Hakekat Kewibawaan Seseorang

Banyak orang saat ini terkadang pingin berusaha maksimal agar bagaimana dirinya menjadi pribadi yang berwibawa. Tetapi dalam kenyataan salah persepsi mungkinnya tentang kewibawaan itu sendiri, lantas dirinya harus mengejar sesuatu yang mungkin menurut hematnya akan berbuah kewibawaan lantas kenyataannya yang dijumpai justru sebaliknya. Mengapa demikian karena jika saja seseorang semakin mengejar kewibawaan maka yang terjadi serta yang terlihat, kewibawaanpun akan semakin menjauh darinya. Karena itulah, kitapun diharapkan agar terlebih dahulu harus mengakui bahwa mengejar kewibawaan sama dengan kita mengejar sesuatu yang unik dan sarat dengan bentuk penilaian adaptif dan normatifnya. Agar diri kita lebih dahulu memfokuskan diri kita kepada pentingnya pemaknaan dan pemahaman sempurna dari hakikinya kewibawaan itu sendiri.

Adalah sebuah kenyataan mungkinnya jika saja kita cermati berbagai fenomena dan konsep kewibawaan itu sendiri. Hal ini terbukti benar manakala banyak kenyataan membuktikan banyak pribadi dalam mengejar kewibawaannya dengan mendasarinya atas kelebihan kekayaan. Dengan saratnya konsep penuh iming-iming akan ketercapaian kewibawaan, akan tetapi itu sifatnya tak sejati atau bukan merupakan hakikat utama kewibawaan. Misal saja yang bersangkutan lantas mengkonsepkan dirinya lebih awal kepada bagaimana agar dirinya akan semakin dipandang hebat, mampu, berhasil, berprestasi, dll sebagainya. Hal ini jelaslah menunjukkan konsep penonjolan diri yang bukannya sesuai koridor harapan sesama tentang konsep kewibawaan. Mungkin saja pandangan sipengejar kewibawaan atau yang bersangkutan saat itu, bahwa dengan kekayaan dirinya tersebut bisa saja yang bersangkutan mendapatkan pengakuan dan kepercayaan yang tepatnya pada hati penghormatan sesamanya. Atau bisa juga kala itu pemikiran yang bersangkutan lebih mengarah kepada bagaimana dirinya bisa menjadikan sosok dirinya berwibawa dengan proses penonjolan dirinya.

Perlu dicatat hal ini tidak mutlak mengingat materi seperti demikian bukanlah sesuatu yang kuat untuk membentengi kewibawaan seseorang. Sehingga terkadang yang bersangkutan menjadi bingung jadinya, jika saja yang diharapkan terlihat kurang berhasil mungkinnya dalam menghadirkan yang namanya kewibawaan. Mengapa? Karena harus terpahami benar oleh yang bersangkutan bahwa kewibawaan jangan dilihat sebagai sebuah proses yang semacam dipolitisir terlebih dahulu, atau mungkin saja kewibawaan yang dihadirnya atas motif membuat orang lain segan pada dirinya karena mungkinnya dirinya berlebihan materinya. Padahal sebenarnya yang bersangkutan pula tidak memahami bahwa tiap pribadi sesama di sekitar kita punya konsep sendiri-sendiri tentang wibawa itu. Jadi bukanlah sebatas penghargaan, penghormatan, segan, atau sisi pandang tentang pribadi berwibawa lainnya yang lebih kepada penonjolan diri atau ego semata.

Tak dapat dipungkiri pula bahwa masih banyak di antara kita mungkinnya memandang bahwa semakin berwibawa jika dirinya memiliki banyak pengetahuan dan sejumlah gelar mungkinnya. Hal ini mungkinnya wibawa yang dikacamatai bersangkutan dari sisi kekayaan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya semata. Ini pula tidak menjadi sesuatu mutlak mungkinnya. Sebab mangapa? jika dirinya memiliki sejumlah ilmu pengetahuan dan teknologi mungkinnya, akan tetapi tidak mampu menjadi berarti bagi sesama, hal ini juga belum bisa dikatakan dirinya mencapai titik kewibawaan nantinya. Dalam artian bagaimana pribadi yang bersangkutan di tengah penguasaan dan kekayaan ilmu pengatahuannya, setidaknya punya kemampuan dalam membuktikan bahwa sungguhnya kekayaan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya dapat bermanfaat dan berguna bagi orang lain pula, dan bukan sekedar transfer ilmu atas kertas, akan tetapi bagaimana menjadi sebuah tanaman subur dalam diri orang lain sehingga pribadi yang bersangkutan akan semakin dianggap sebagai pemberi bibit awal yang menghasilkan kebangkitan diri pribadi sesama di sekitarnya. Hal seperti ini yang sebenarnya bisa kita jadikan indikator sederhana dalam mengukur kewibawaan seseorang yang hakiki sifatnya, dan biasanya wibawa orang-orang demikian sifatnya permanen adanya.

Memang sederhana terlihatnya, akan tetapi konsep wibawa sebenarnya janganlah dipandang demikian sederhananya. Dari aspek sederhana saja mungkinnya tentang kewibawaan itu sendiri, terkait tatanan pikir kita sudah begitu kompleks fenomenanya, oleh karenanya yang paling rasional mungkinnya dari kewibawaan itu sendiri adalah jika saja kita mampu arahkan konsep pemahaman kewibawaan itu dalam konsep dan konteks global dari aktivitas keseharian hidup kita. Yang setidaknya mampu memberikan cahaya bening serta rasa sejuk dalam kehidupan orang lain, yakni ketika kita mampu merasionalisasikan pikir kita kepada sesuatu yang sifatnya menginpirasikan orang lain mungkinnya. Sehingga mungkinnya kelak akan terjadi yang bersangkutan sendiri secara tidak sadar saja, atau dengan sendirinya mutlak telah memiliki kewibawaan. Karena telah adanya penilaian positif sesamanya bagi bersangkutan, terkait dirinya sebagai sosok  pemberi bibit awal kebangkitan sesamanya.

Mengapa harus dikatakan demikian, karena hal tersebutlah yang mungkinnya sangat mampu menanamkan benih-benih kepercayaan dan pengakuan tak terpaksakan di diri sesamanya, yang adalah wujud awal hadirnya kewibawaan yang hakiki dalam diri seseorang. Sebagai akibat dari dirinya punya daya atau kemampuan menggerakkan, membangkitkan serta mengispirasi sesamanya secara positif, yang adalah bentuk energi positif dalam menghadirkan kewibawaan bagi dirinya.

Tatanan pikir seperti ini hingga kini mungkinnya masih gelap, kabur dan samar-samar bagi kita semua yang miskin pemahaman sempurna tentang hakikinya kewibawaan itu, dimana terkadang kita jumpai orang berilmu menganggap dirinya akan berwibawa atau orang bergelimpangan kekayaan menganggap dirinya akan berwibawa mungkinnya, akan tetapi sebenarnya salah, manakala energi positif tidak dimiliki oleh mereka. Sebagai contoh sederhana lebih awal mungkinnya ada tidak sikap, tindakan, yang menampilkan dirinya sebagai sosok pribadi yang mampu berpikir dan berjiwa besar mungkinnya? Itu dulu sebagai langkah awal! Mengapa tidak jika kita harus jujur katakan demikian, karena fakta membuktikan banyak orang pintar yang menganggap dirinya berilmu dan lain sebagainya yang terlena dengan keangkuhannya lantas menghilangkan kewibawaannya, singkat kata keangkuhan mengelontorkan kewibawaan. Contoh seseorang yang menganggap lebih dirinya karena penguasaannya akan ilmu pengetahuan dan harta mungkinnya sehingga menganggap remeh sesamanya, ini saja sudah menjadi sumber gelontornya nilai kewibawaan seseorang, manakala yang berilmu kita lihat akan saling beradu ilmu untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dipertentangkan, karena yang berwibawa adalah pribadi yang sangat menghargai sesama dan sarat tatanan hidup kemanusiaannya bukan sarat tatanan keilmuannya. Karena ilmu bukanlah sejati atau hakikinya kewibawaan seseorang.

  Banyak sekali orang berilmu dianggap tidak berwibawa karena demikian, mengapa karena dirinya tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri, untuk senantiasa berada dalam nuansa sarat penghargaan dan sarat jiwa kepedulian dan saling pengertian terhadap sesama. Sehingga banyak sudah pribadi arogan pengetahuan menjadi pribadi yang tak berwibawa karena tidak mampu mengbingkaikan dirinya pada tatanan terpenting dari kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Yakni pentingnya penghargaan terhadap sesama, jiwa kebersamaan dan melihat konsep perbedaan sebagai sesuatu yang unik dan tak pantaslah dipertentangkan, karena yang sempurna bagi kita belum tentu sempurna bagi orang lain. Itulah yang terpenting mungkinnya dalam menghadirkan kewibawaan dalam diri seseorang.

Lantas saja sebagai kesimpulan akhir dari hakiki kewibawaan itu sendiri. Bahwa kewibawaan itu sendiri jangan pernah dikejar dalam motif keangkuhan karena akan berdampak buruk, dan juga perlu dicatat bahwa mengejar kewibawaan atas dasar motif keangkuhan adalah salah. Akan tetapi yang terbaik adalah lebih mengedepankan prinsip kesepadanan hidup, melalui tatanan berpikir yang rasional, diakui dan dipercaya sesama, serta mampu membangkitkan, mengairahkan orang lain untuk senantiasa mengalami perubahan dalam dirinya. Agar diri kita sendiri dapat dianggap sebagai tanaman hidup dalam diri orang lain.

Akhirnya janganlah banyak di antara kita yang bersifat angkuh serta congkak dengan segala kemampuan yang dimiliki. Tapi yang terpenting adalah pemahaman bersama kita bahwa apa yang dimiliki oleh kita adalah titipan Sang Ilahi yang patut pula dibagikan dan ditularkan pula bagi sesama dalam bentuk energi positif yang kreatif serta berdampak membangun bagi sesama, yang secara otomatis akan berdampak semakin tumbuhnya nilai kewibawaan hakiki didiri kita pada pandangan sesama.

  1. Pengertian Kewibawaan

Konsep kewibawaan di adopsi dari bahasa Belanda yaitu “gezag” yang bersal dari kata “zeggen” yang berarti berkata. Siapa perkataannya yang mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain, berarti mempnyai kewibawaan atau gezat terhadap orang itu.

Dalam pengertian umum yang berkembang dalam situasi dan kondisi dimasyarakat, kewibawaan sering pula diartikan sebagai sesuatu kelebihan yang dimiliki seseorang. Dengan kelebihan yang dimilikinya dia dihargai, dihormati, disegani, bahkan ditakuti orang lain atau kelompok masyarakat tertentu. Kelebihan itu bisa saja dalam berbagai dimensi yang dipunyai seseorang, mungkin kerena ilmu atau keahlian atau kepintarannya, kekayaannya, kekuatannya, kecakapanya, sifatnya, prilekunya atau kepribadiannya.

Kewibawaan yang dipunyai orang tua dengan kewibawaan yang dimilki oleh guru dalam pendidikan tentu saja ada persamaan dan perbedaanya. Orang tua adalah pendidik yang utama dan pertama dan sudah semestinya. Mereka adalah pendidik alami dan asli menerima tugas secara kodrati dari Tuhan untuk mendidik anak-anaknya. Karena itu sudah semestinya mereka mempunyai kewibawaan terhadap ana-anaknya.

Kewibawaan orang tua dapat dilihat dari dua sisi yaitu.

  1. Kewibawaan pendidikan

Dalam hal ini orang tua bertujuan memelihara keselamatan anak-anaknya, agar mereka dapat hidup terus dan berkembang secara jasmani dan rohaninya menjadi manusia dewasa. Pembawa pendidikan itu berakhir jika anak itu sudah menjadi dewasa.

  1. Kewibawaan keluarga

Orang tua merupakan kepala dari suatu keluarga tiap anggota keluarga harus patuh terhadap peraturan yang berlaku dalam keluarga dengan demikian orang tua sebgai kepala keluarga dan dalam hubungan kekeluargaanya mempunyai kewibawaan terhadap anggota keluarganya. Kewibawaan keluarga bertujuan untuk pemeliharaan dan keselamatan keluarga.

Kewibawaan guru dan tenaga kependidikan lainya sebagai pendidik bukan dari kodrat, melainkan karena jabatan yang diterimanya. Ia ditunjuk, diangkat dan diberi kekuasaan sebagai pendidik oleh negara dan masyarakat oleh karena itu kewibawaan yang ada padanya pun berlainan dengan kewibawaan orang tua.

  1. Kewibawan guru dalam pendidikan

Seperti halnya kewibawaan pendidikan yang ada pada orang tua, guru atau pendidik karena jabatan berkenaan dengan jabatanya sebagai pendidik, telah diserahi sebagian dari orang tua untuk mendidik anak-anak. Kewibawaan ppendidikan ini di batasi oleh banyyaknya anak-anak yang diserahakn kepadanya dan setiap tahun berganti murid.

  1. Kewibawaan pemerintah

Disamping memiliki kewibawaan pendidikan guru atau pendidik karena jabatannya juga mempunyai kewibawaan pemerintah. Mereka di beri kekuasaan oleh pemerintah yang mengankatnya. Kekuasaan (kewibawaan) tersebut meliputi pimpinan kelas, disitulah anak-anak telah diserahkan padanya.

  1. Fungsi Kewibawaan dalam Pendidikan 

Dalam pergaulan baru terdapat pendidikan, jika didalamnya telah dapat kepatuhan si anak. Tetapi tidak semua pergaulan merupakan pendidikan. Satu-satunya pengaruh yang dapat dikatakan pendidikan adalah pengaruh yang menuju kedewasaan anak, untuk menolong anak menjadi orang yang kelak dapat atau sanggup memenuhi tugas hidupnya secara mandiri.

Berdasarkan penjelasan diatas, tampak fungsi wibawa pendidikan adalah membawa si anak kearah pertumbuhannya yang kemudian dengan sendirinya mengakui wibawa orang lain dan mau menjalaninya.

Penggunaan Kewibawaan Oleh Guru dan Pendidik Lainya

Kewibawaan pendidikan yang dimaksudkan disini adalah yang menolong dan memimpin anak kearah kedewasaan atau kemandirian. Oleh karena itu, penggunaan kewibawaan oleh guru dan tenaga kependidikan perlu didasari oleh faktor-faktor berikut:

  1. Dalam menggunakan kewibawaan hendaklah didasarkan atas perkembangan anak sebagai pribadi.
  2. Pendidik hendaklah memberi kesempatan kepada anak untuk bertindak atas inisiatif sendiri
  3. Pendidik hendaknya menjalankan kewibawaan atas dasar cinta kepada anak.

Kewibawaan dalam pendidikan

  1. Kewibawaan dan pelaksanaan kewibawaan dalam keluarga, terutama dimaksudkan untuk melaksanakan berputernya roda masyarakat kecil. Dalam pendidikan pelaksanaan kewibawaan tujuannya untuk norma-norma itu, dengan wibawa itu pendidik hendak membawa anak agar mengetahui, memiliki, dan hidup sesuias dengan norma-norma.
  2. Pelaksanaan kewibawaan dalam kependidikan harus berdasarkan perwujudan norma dalam diri si pendidik. Oleh karena itu wibawa dan pelaksanaannya mempunyai tujuan membawa anak ketingkat kedewasaan.

Kewibawaan dan identifikasi

Dalam setiap macam kewibawaan terdapat suatu identifikasi sebagai dasar. Artinya, dalam melakukan kewibawaan si pendidik mempersatukan dirinya dengan yang dididik, juga sebaliknya. Dalam kaitan ini identifikasi mengandung arti si pendidik mengidentifikasi dirinya dengan kepentingan dan kebahagian si anak. Jadi, si pendidik akan mewakili patah hati anak didiknya untuk sementara. Dan yang kedua si anak mengidentifikasi dirinya terhadap pendidiknya.

Ada dua kemungkinan cara mengidentifikasi anak yaitu yang pertama ia dapat sama sekali melenyapkan dirinya menurut sempurna, tidak menentang perintah dan larangan di lakukan secara pasif saja. Yang kedua karena ikatan dengan sang pemegang wibawa (pendidik) terlalu kuat sehingga merentangi perkembangan “aku” anak itu.

Kesimpulan, identifikasi pada diri seorang anak mulanya tertuju pada diri pribadi pendidiknya, kemudian tertuju pada nilai-nilia dan normanya, kelaknya lebih melepaskan lagi dari pendidiknya, dan lebih lagi menunjukkan dirinya kepada nilai-nilai dan norma itu. Jelas bahwa fungsi kewibawaan adalah pendidikan adalah membuat si anak nilai-nilai dan norma-norma hidup.

Baca Juga: