Evaluasi Pembelajaran Seni Rupa

Evaluasi Pembelajaran Seni Rupa

Evaluasi lebih menekankan pada aspek proses pengajaran dengan mengukur adanya berbagai gejala perubahan, termasuk perubahan nilai. Evaluasi adalah langkah yang digunakan untuk mengukur tingkah laku anak selama pembelajaran.
untuk memperoleh data berupa tingkatan kemampuan setelah pembelajaran.

Fungsi evaluasi adalah untuk melihat perkembangan/kemajuan anak dan memberikan dorongan semangat belajar agar hasil selanjutnya dapat lebih baik.

Perlu diingat, dalam pemberian evaluasi, selalu harus diperhitungkan akibat yang mungkin terjadi, terlebih evaluasi terhadap hasil belajar di kelas. Dalam hal ini, nilai yang dihasilkan adalah cermin perubahan tingkah laku anak selama menerima pelajaran di kelas. Dari belum mampu menggambar menjadi mampu menggambar. Dari belum lengkap menjadi lebih lengkap. Dari bentuk-bentuk global berkembang menuju ke detail. Dari belum tepat memberi alasan, kemudian mampu mengurai maksud dari gambar/karya yang dibuat. Begitupun perkembangan penguasaan teknik, alat, bahan, serta kemampuan kreatif untuk mengolah ide.

Biasanya ada hal yang kurang disadari oleh para guru, bahwa penilaian sama dengan vonis hakim terhadap yang diwujudkan dalam nilai sebagai putusan yang tak bisa ditawar. Terlebih bagi para orang tua yang belum memahami hakekat nilai atau penilaian; akan mudah berpendapat, bahwa nilai jelek dari guru adalah searti dengan : anak saya tidak berbakat, tidak mampu menggambar, atau menggambar hanya untuk anak yang berbakat. Akan lebih parah, apabila guru juga berpandangan seperti itu.

Oleh karena itu, memberi nilai / skor terhadap hasil karya anak, haruslah meilhat situasi dan kondisi anak. Apakah nilai akan membuat anak bangga [reinforcement]. apakah nilai akan membuat anak menjadi merosot minatnya, bahkan membenci kegiatan oleh seni rupa.

Jadi, yang paling diharapkan adalah nilai evaluasi yang mampu menggugah semangat anak untuk terus berkarya. Namun, perlu diingat, bahwa tidak selamanya nilai tinggi yang diberikan akan secara otomatis dapat memberi semangat anak untuk terus berkarya. Alih-alih, justru memberi konotasi keliru terhadap persepsi anak, apabila terlalu mudah mendapat nilai bagus, walau kenyataannya hasil karyanya tidak bagus.

baca juga :

Pos-pos Terbaru