Dari Pengumuman SBMPTN 2019, Evaluasi Pola Soal dan Server

Dari Pengumuman SBMPTN 2019, Evaluasi Pola Soal dan Server

Dari Pengumuman SBMPTN 2019, Evaluasi Pola Soal dan Server

Dari Pengumuman SBMPTN 2019, Evaluasi Pola Soal dan Server
Dari Pengumuman SBMPTN 2019, Evaluasi Pola Soal dan Server

Hasil Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2019 telah diumumkan. Sebanyak 168.742 di antara 714.652 pendaftar dinyatakan lolos seleksi dan masuk ke 85 kampus negeri.

Pelaksanaan SBMPTN kali ini disebut lebih efisien jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Penerapan sistem baru dengan ujian tulis berbasis komputer (UTBK) juga dinilai berdampak positif untuk pemerataan pendidikan secara nasional.

Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Mochamad Ashari menyatakan, ada dampak positif sistem UTBK dalam seleksi masuk PTN. Pemilik nilai-nilai yang bagus dari berbagai daerah mulai bermigrasi dengan mendaftar di PTN Jawa Timur. “Kalau dulu yang mendaftar di ITS didominasi dari Jawa, sekarang dari berbagai daerah mulai berani bersaing setelah melihat hasil UTBK-nya tinggi,” katanya kemarin.

Kendati demikian, bukan berarti sistem SBMPTN tahun ini tak memiliki kekurangan. Salah satunya, menurut Ashari, tidak adanya afirmasi dalam sistem baru SBMPTN. Hal itu mempersempit kesempatan anak bangsa yang memiliki talenta unggul di berbagai pelosok daerah. “Mungkin tahun depan pelaksanaan SBMPTN bisa mempertimbangkan afirmasi,” ujarnya.

Ashari mengungkapkan, rata-rata yang masuk PTN favorit dengan nilai UTBK tinggi adalah kalangan mampu dari kota-kota besar. Sementara itu, peserta dari masyarakat kurang mampu dari daerah-daerah tertinggal sulit bersaing dengan peserta dari kota dengan nilai UTBK yang jauh lebih tinggi. “Karena ini baru pertama, tahun depan diharapkan bisa ada afirmasi untuk anak-anak di daerah tertinggal,” jelasnya.

Dari Jakarta, Menristekdikti Mohamad Nasir menyatakan, pelaksanaan SBMPTN tahun ini lebih efisien sepanjang sejarah seleksi penerimaan mahasiswa. Peserta tidak perlu berbondong-bondong antre di kampus untuk mendaftar maupun mengikuti ujian. Semua dilakukan secara online.

Perubahan sistem tersebut, menurut Nasir, sangat rasional. “Semuanya serba online. Bisa diakses dari rumah,” katanya di ruang sidang utama Kemenristekdikti. Tahun lalu, dari sisi pengaturan keamanan, cukup sulit. Ada pergerakan massa yang besar. Baik peserta maupun pengantar.

Sistem UTBK juga membuat proses seleksi menjadi terbuka. Peserta diajak untuk lebih rasional dan berkompetisi secara sehat. Sebab, nilai sudah diketahui sebelum memilih program studi tujuan. “Sistem SBMPTN 2019 merupakan model terbaik dalam proses seleksi penerimaan mahasiswa hingga saat ini. Minim masalah dan kecurangan,” ungkap Nasir.

Namun, Nasir mengakui bahwa ada kekurangan dari sisi kesiapan server. Peserta dibuat resah lantaran sistem pendaftaran di https://pendaftaran-utbk.sbmptn.ac.id sempat down pada dua hari pertama. Traffic data melebihi ambang batas kapasitas server. Sekitar 3 juta orang mengakses laman web pendaftaran dalam waktu yang bersamaan. Saat itu panitia Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) sempat mengumumkan bahwa sistem pendaftaran UTBK SBMPTN menjalani pemeliharaan sementara. “Saya sadar betul atas kesalahan itu,” tutur menteri 58 tahun tersebut.

Belajar dari pengalaman itu, pengumuman SBMPTN 2019

kemarin tidak hanya dilakukan melalui pengumuman-sbmptn.ltmpt.ac.id. LTMPT membuka mirror server dengan meminjam 12 web server PTN terkemuka di Indonesia. PTN tersebut mewakili setiap wilayah Indonesia: barat, tengah, dan timur.

Ketua LTMPT Ravik Karsidi mengakui bahwa sistem baru pada SBMPTN tahun ini masih punya banyak kekurangan. Untuk pelaksanaan tahun depan, timnya bakal lebih mempersiapkan segala aspek dengan lebih matang. Mulai server, koordinasi dengan PTN di seluruh wilayah, hingga peningkatan kualitas dan kuantitas soal.

Tidak dimungkiri, peserta sudah mengetahui pola soal tes yang diberikan. Ada persiapan satu tahun bagi peserta selanjutnya untuk belajar. “Kami juga belajar dan berupaya meningkatkan kualitas seleksi penerimaan mahasiswa tahun 2020 agar lebih sempurna,” kata guru besar sosiologi pendidikan Universitas Sebelas Maret itu.

Sementara itu, Rektor Universitas Airlangga (Unair) Mohammad Nasih

menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan evaluasi pelaksanaan SBMPTN tahun ini. Misalnya terkait dengan soal yang terbatas. Jadi, ada beberapa item soal yang masih digunakan pada UTBK gelombang kedua.

Menurut Nasih, ke depan, yang perlu dikembangkan dalam pelaksanaan SBMPTN adalah soal-soal kebangsaan dan nasionalisme. Sebab, UTBK belum bisa sepenuhnya mengukur soal yang bersifat kebangsaan maupun nasionalisme. “Soal yang ada saat ini masih tentang pemikiran dan logika. Sementara soal kebangsaan belum ter-cover. Kami berharap ada beberapa materi yang bisa menjadi penekanan untuk soal perasaan peserta terhadap kebangsaan dan nasionalisme,” tambah dia.

Sementara itu, jumlah pendaftar SBMPTN 2019 tercatat hanya 714.652 peserta.

Lebih rendah daripada tahun lalu yang mencapai 860.001 peserta. Ketua LTMPT Ravik Karsidi mengakui bahwa sistem baru seleksi menjadi penyebabnya.

Mantan rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta itu mengungkapkan bahwa masih ada bangku kosong. Dari total daya tampung 181.645 kursi, hanya 162.742 yang terisi. ”Selisih tersebut karena ada prodi yang memang tidak ada peminat. Dan, nilai pendaftar juga tidak memenuhi standar nilai prodi yang ditetapkan masing-masing rektor,” terangnya.

Menristekdikti Mohamad Nasir juga mengakui bahwa perubahan pola tes berpengaruh pada menurunnya jumlah pendaftar SBMPTN 2019.

 

Sumber :

http://www.myfolio.com/danuaji