Budidaya Strawberry

Budidaya Strawberry

Budidaya Strawberry

 

 

Latar Belakang Strawberry

Stroberi atau strawberry merupakan salah satu komoditas buah-buahan yang terpenting di dunia, terutama untuk negara-negara beriklim subtropis.permintaan dunia akan buah stroberi cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Daya serap pasar ( konsumen ) yang

semakin tinggi membuat agribisnis stroberi mempunyai prospek cerah.

Di negara-negara yang beriklim subtropis, pengembangan budidaya stroberi dijadikan sebagai salah satu sumber devisa. Pola dan sistem pengembangan budidaya stroberi telah dipadukan dengan sektor pariwisata, yaitu menciptakan “kebun agrowisata”. Dalam jangka waktu satu tahun dapat dilakukan tiga musim penanaman, yaitu pada musim semi, panas dan dingin.

Budidaya stroberi pada mulanya didomisili daerah atau Negara beriklim subtropics, akan tetapi seiring perkembangan ilmu dan teknologi pertanian yang semakin maju, kini stroberi mendapat perhatian pengembangannya di daerah beriklim tropis. Penanaman stroberi di Indonesia sudah lama dirintis sejak zaman kolonialisasi Belanda, akan tetapi pengembangannya masih dalam skala kecil. Walau stroberi bukan merupakan tanaman asli Indonesia, namun pengembangan komoditas ini yang berpola agribisnis dan agroindustri dapat dikategorikan sebagai salah satu sumber pendapatan baru dalam sector pertanian. Fakta ini didasari dengan banyaknya penggemar buah stroberi, baik dikonsumsi dalam keadaan segar maupun buah yang telah diolah menjadi berbagai macam makanan maupun minuman.

 

Budidaya Stroberi

Budidaya tanaman stroberi dapat dilakukan di lahan kebun maupun di dalam pot. Yang akan dibahas adalah budidaya stroberi di lahan kebun (lapang), meliputi tahap-tahap sebagai berikut:

 

Penyiapan Lahan

Lahan kebun tanaman stroberi disiapkan biasanya dalam bentuk bedengan-bedengan atau guludan tanpa mulsa plastic ataupun system bermulsa plastik. Lahan kebun tanaman stroberi diolah secara sempurna/baik. Tujuan pengolahan tanah yaitu:

  1. Memperbaiki struktur tanah
  2. Mempercepat proses pelapukan
  3. Memberantas tumbuhan pengganggu (gulma)
  4. Memperbaiki aerasi dan drainase tanah
  5. Membalik dan mempertebal lapisan tanah atas
  6. Memperbaiki kehidupan mikroba tanah

Waktu pengolahan tanah yang peling baik adalah pada awal musim hujan agar ketersediaan air memadai. Di daerah yang sumber airnya cukup, pengolahan tanah dapat dilakukan setiap saat.

 

 

Tata cara penyiapan lahan kebun stroberi adalah sebagai berikut:

1. System bedengan atau guludan tanpa mulsa plastik

  • Bersihkan tumbuhan pengganggu (gulma) dan pohon-pohonan, kemudian kumpulkan pada tempat pembuangan limbah.
  • Olah tanah dengan cara dicangkul atau dibajak selama 30 cm-40 cm hingga tanah menjadi gembur.
  • Kering anginkan tanah selama 15-30 hari
  • Buat bedengan-bedengan berukuran lebar 80-100 cm, tinggi 30-40 cm, jarak antara bedengan 40-60 cm, serta panjang disesuaikan dengan keadaan lahan. Dapat pula dibuat guludan-guludan dengan ukuran lebar bawah 40-60 cm dan lebar atas 40 cm, tinggi 30-40 cm, serta jarak antara guludan 40-60 cm.
  • Taburkan pupuk organik yang berupa kotoran ternak, kompos dengan dosis antara 20-30 ton per hektar secara merata di permukaan bedengan atau guludan. Bila pH tanah masam, tambahkan pula bahan pengapur seperti kalsit atau Dolomit dengan dosis antara 2-4 ton per hektar,tergantumg dari angka pH tanahnya. Campurkan pupuk organic atau kapur dengan lapisan tanah atas (top soil) sambil dibalikkan dan diratakan.siram tanah yang baru dikapur tersebut, terutama bila tidak hujan.
  • Kering anginkan bedengan atau guludan selama minimal 15 hari.

2. System bedengan atau guludan bermulsa plastik

Pada prinsipnya penyiapan lahan bermulsa mirip dengan prinsip pembuatan bedengan atau guludan tanpa mulsa plastik,akan tetapi perbedaannya pada system bermulsa plastik 10 hari sebelum tanam seluruh dosis pupuk ditebarkan terlebih dahulu bersamaan dengan pemasangan mulsa plastik.

 

 

Adapun cara penyiapan lahan bedengan atau guludan bermulsa plastik adalah sebagai berikut:

  • Olah tanah hingga gembur seperti yang telah dilakukan pada pengolahan tanah system bedengan atau guludan tanpa mulsa plastik.
  • Buat bedengan-bedengan atau guludan kasar sesuai dengan system penyiapan lahan yang diingini. Bedengan berukuran lebar 80-120 cm, tinggi 30-40 cm, serta jarak antar bedengan 60 cm.sedangkan panjangnya disesuaikan dengan keadaan lahan.
  • Taburkan pupuk kandang dosisnya 20-30 ton per hektarbersamaan dengan bahan pengapur yang berupa Kalsit atau Dolomit sebanyak 2-4 ton per hektar, selanjutnya dicampurkan sambil dibalikan bersama dengan lapisan tanah atas.
  • Kering anginkanlah selama minimum 15 hari.
  • Taburkan seluruh dosis pupuk yang tersedia atas Urea 200 kg + TSP 250 kg +KCl 100 kg per hektar pada setiap bedengan atau guludan, kemudian campurkan secara merata dengan lapisan tanah atas.
  • Siram tanah bedengan atau guludan hingga cukup basah agar pupuk mudah melarut dalam tanah.
  • Pasang mulsa plastik hitam atau hitam perak menutup permukaan bedengan, kemudian kuatkanlah dengan menggunakan pasak bambu tipis berbentuk huruf Upada seluruh pinggir mulsa plastik.
  • Buat lubang tanaman pada permukaan atas mulsa plastik dengan alat pelubang tangah yang terbuat dari kaleng bekas susu, diisi ddengan arang membara. Alternative jarak antar lubang dalam barisan dapat dipilih 30 cm, 40 cm, dan 50 cm, agaaar kelak jarak tanam menjadi 40cm x 30cm, 50cm x 50cm, 50cm x 40cm.

 

Penyiapan Bibit

Kebutuhan bibit per satuan luas lahan ditentukan oleh varietas tanaman stroberi dan jarak tanam yang digunakan. Jumlah bibit yang ditanam diperkirakan berkisar antara 40.000-83.333 bibit per hektar. Baca Juga: Cara ternak Burung Lovebird Bibit yang digunakan dapat berasal dari hasil perbanyakan tanaman secara generatife (biji) dan vegetatif berupa anakan atau stolon.

Hal terpenting yang harus disiapkan dalam penyiapan bibit adalah pemilihan bibit yang bermutu prima, berasal dari varietas unggul, dan cocok dengan kondisi agroekologi setempat, sebulan sebelum tanam sebaiknya bibit diadaptasikan dulu di lokasi kebun.