BANGUNAN CANDI BOROBUDUR

BANGUNAN CANDI BOROBUDUR

BANGUNAN CANDI BOROBUDUR

BANGUNAN CANDI BOROBUDUR

Candi Borobudur merupakan candi buddha terbesar yang ditemukan di Indonesia. Bangunan Candi Borobudur terhitung sangat megah dengan stupa besar utama di tengah bangunan candi dikelilingi tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang memiliki arca buddha di dalamnya. Candi Borobudur berhias 2.672 panel relief dan terdapat 504 arca Buddha.

Secara struktur bangunan, Candi Borobudur sangatlah menarik untuk dilihat. Candi Borobudhur dibangun dengan desain dan pola yang mendeskripsikan perjalanan kehidupan manusia yang berkaitan dengan alam semesta. Dalam kepercayaan warga Buddha Mahayana perjalanan itu dibagi menjadi Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu.

1. KAMADHATU

Bagian kaki Candi Borobudur melambangkan Kamadhatu. Kamadhatu adalah saat dunia masih dikuasai kama atau nafsu rendah. Bagian kaki candi itu diduga dibuat dengan fungsi memperkkoh candi. Namun, sebuah temuan lain menunjukkan kaki tersebut tak hanya dibuat dengan asal-asalan sebagai tambahan.

Pasalnya ada 160 panel cerita Karmawibhangga yang menggambarkan hukum sebab -akibat.  Pada saat ini relief tersebut tersembunyi, meski sebagian masih bisa terlihat sedikit di bagian sudut tenggara.

2. RUPADHATU

Selanjutnya bagian candi yang berupa empat undak teras yang membentuk lorong keliling dan berhias relief pada dindingnya mewakili Rupadhatu. Pada tingkatan ini melambangkan alam antara. Yaitu alam diantara alam atas dan bawah.

Pada bagian ini empat lorong yang menggambarkan rupadathu memiliki 1.300 gambar relief dengan panjang 2,5 km dan 1.212 panel berukir dekoratif. Aslinya pada bagian ini ada arca Buddha berjumlah 432 di dalam stupa yang berjajar di bagian candi.

Pada tingkatan ini menggambarkan bahwa manusia telah mencapai tingkatan untuk meninggalkan segala hawa nafsu dan urusan duniawi. Hal itu terlihat dari lorong penghubung yang memiliki tingkatan satu sampai empat.

3. ARUPADHATU

Arupadhatu atau tingkatan paling atas candi merupakan gambaran tingkatan alam tanpa rupa. Dalam tingkatan Arupadhatu manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk rupa, tapi belum mencapai nirwana. Arupadhatu digambarkan dengan adanya stupa induk dan dikelilingi oleh 3 teras lingkaran dengan jumlah 72 stupa berlubang.

Tingkatan tertinggi yang melukiskan ketiadaan wujud digambarkan dengan stupa terbesar dan tertinggi polos tanpa berlubang. Stupa utama sebenarnya dibiarkan kosong. Kekosongan stupa utama itu diduga melambangkan kebijaksanaan tertinggi, kesunyataan kesunyian dan ketiadaan sempurna.

Terlepas dari filosofi bangunan tersebut, struktur Candi Borobudur juga dibangun dengan cara unik. Candi Borobudur terdiri dari sekitar 55.000 meter kubik batu andesit. Batu itu diangkut menuju lokasi dan disatukan tanpa menggunakan semen.

Orang zaman dahulu menggunakan sistem interlock atau saling kunci antara balok-balok batu andesit sehingga bisa mengunci satu sama lain tanpa perekat. Setelah batu saling mengunci dan rampung, barulah relief indah di dinding dibuat.

Selain sistem menakjubkan tanpa semen perekat, Candi Borobudur juga dilengkapi sistem drainese yang mampu menahan curah hujan tinggi karena memiliki 100 pancuran yang terpasang di setiap sudut. Agar lebih indah, pancuran itu dibentuk dengan motif kepala raksasa atau kala dan membuat banyak orang mungkin tak memperhatikannya sebagai pancuran.


Baca Juga :