Bagaimana Pelaksanaan Pendidikan Karakter Secara Terintegrasi Di Dalam Proses Pembelajaran

Bagaimana Pelaksanaan Pendidikan Karakter Secara Terintegrasi Di Dalam Proses Pembelajaran ?

Integrasi pendidikan karakter di dalam proses pembelajaran dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran pada semua mata pelajaran. Di antara prinsip-prinsip yang dapat diadopsi dalam membuat perencanaan pembelajaran (merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian dalam silabus, RPP, dan bahan ajar), melaksanakan proses pembelajaran, dan evaluasi adalah prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang selama ini telah diperkenalkan kepada guru, termasuk guru-guru SMP seluruh Indonesia sejak 2002. Prinsip-prinsip tersebut secara singkat dijelaskan berikut ini.

  1. Konstruktivisme (Constructivism)

Konstrukstivisme adalah teori belajar yang menyatakan bahwa orang menyusun atau membangun pemahaman mereka dari pengalaman-pengalaman baru berdasarkan pengetahuan awal dan kepercayaan mereka.  Seorang guru perlu mempelajari budaya, pengalaman hidup dan pengetahuan, kemudian menyusun pengalaman belajar yang memberi siswa kesempatan baru untuk memperdalam pengetahuan tersebut.[11]

Pemahaman konsep yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman-pengalaman belajar autentik dan bermakna yang mana guru mengajukan pertanyaan kepada siswa untuk mendorong aktivitas berpikirnya. Pembelajaran hendaknya dikemas menjadi proses ‘mengkonstruksi’ bukan ‘menerima’ pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan, bukan guru. Pembelajaran dirancang dalam bentuk siswa bekerja, praktik mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan, mendemonstrasikan, menciptakan gagasan, dan sebagainya.

Tugas guru dalam pembelajaran konstruktivis adalah memfasilitasi proses pembelajaran dengan:

(a)   menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa,

(b)   memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri,

(c)    menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

  1. Bertanya (Questioning)

Penggunaan pertanyaan untuk menuntun berpikir siswa lebih baik daripada sekedar memberi siswa informasi untuk memperdalam pemahaman siswa. Siswa belajar mengajukan pertanyaan tentang fenomena, belajar bagaimana menyusun pertanyaan yang dapat diuji, dan belajar untuk saling bertanya tentang bukti, interpretasi, dan penjelasan. Pertanyaan digunakan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.

Dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:

(a)   menggali informasi, baik teknis maupun akademis

(b)   mengecek pemahaman siswa

(c)    membangkitkan respon siswa

(d)   mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa

(e)    mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa

(f)     memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru

(g)   menyegarkan kembali pengetahuan siswa

  1. Inkuiri (Inquiry)

sumber :
http://blog.dinamika.ac.id/arya/2020/06/06/kinemaster-pro/