Alasan pendapat yang tidak memperbolehkan

Alasan pendapat yang tidak memperbolehkan

Menafsirkan Qur’an dengan ra’yu dam ijtihad semata tanpa ada dasar yang sahih adalah haram, tidak boleh dilakukan.

Ulama yang tidak membolehkan penafsiran dengan ra’yu menyebutkan   beberapa alasan yang dapat kami ringkaskan sebagai berikut :

  1. Tafsir dengan ra’yu adalah membuat-buat (penafsiran) Al-Qur’an dengan tidak berdasarkan ilmu. Karena itu tidak dibenarkan berdasarkan firman Allah :

Artinya :

Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. ( QS. Al-Bbaqoroh : 169)

  1. Sebuah hadits  tentang acaman terhadap orang yang menafsirkan dengan ra’yu, yaitu sabda Rasul SAW :

من كذّب عليّ متعمدا فليتبوُأ مقعده من نار, ومن قال فى القران برأيه فليتبوّ أ مقعده من النار. ( رواه التر مذ )

Artinya :

“Barang siapa mendustakan secara sengaja niscaya ia harus bersedia menepatkan dirinya di neraka. Dan barang siapa yang menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan Ra’yu atau pendapatnya maka hendaklah ia bersedia menepatkan dirinya di neraka .”( H.R. Turmuzi dan Ibnu Abbas ).

  1. Firman Allah SWT :

Artinya :

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.

  1. Para sahabat dan tabi’in merasa berdosa bila menafsirkan Al-Qur’an dengan ra’yunya, sehingga abu Bakar Shiddiq mengatakan, “ langit manakah yang akan menaungiku dan bumi manakah yang akan melindungiku? Bila aku menafsirkan Al-Qur’an menurut ra’yuku atau aku katakan tentangnya sedang aku sendiri belum mengetahui betul.”
  1. Alasan-alasan Pendapat yang Membolehkan Tafsir dengan Ra’yu

Ulama’ yang membolehkan tafsir dengan ra’yu adalah golongan jumhur yang menyebutkan beberapa alasan yang dapat kami simpulkan sebagai berikut:

  1. Allah telah manganjurkan kita untuk memperhatikan dan mengikuti  Al-Qur’an, seperti  dalam firman-Nya:

Artinya :

“ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” (QS. Shaad:29).

Proses tazakkur tidak akan bisa dilakukan tanpa mendalami rahasia-rahasia Al-Qur’an dan berusaha untuk memahami artinya.

  1. Allah SWT.  membagi manusia dalam dua klasifikasi; kelompok awam dan kelompok ulama (cerdik cendikiawan). Allah memrintahkan mengembalikan segala persoalan kepada ulama yang bisa mengambil dasar hokum, firman Allah:

Artinya :

“Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri[322] di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri).” (QS. An-Nisa’:83)

  1. Mereka berpendapat, “bila penafsiran menurut ijtihad tidak dibenarkan maka ijtihad itu sendiri niscaya tidak diperbolehkan. Akibatnya banyak hukum yang terkatung-katung. Hal ini tidak mungkin karena bila seorang mujtahid berijtihad dalam hukum syara’, ia akan mendapatkan pahala, baik benar maupun salah dalam ijtihadnya.[7]
  2. Pedoman Penafsiran dengan Ra’yu

Faktor yang harus di penuhi dalam penafsiran secara ra’yu, terdiri atas empat pokok sebagaimana yang kutip oleh Ali Ash-Shaabuuniy yang dikemukakan oleh Az-Zarkasi dalam kitabnya Al-Burhan yang dikutip oleh Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Itqan, yaitu:

  1. Dikutip dari Rasul dengan memperhatikan hadits-hadits yang daif dan maudhu’.
  2. Mengambil dari pendapat sahabat dalam hal tafsir karena kedudukan mereka adalah marfu (sampai kepada Nabi)
  3. Mengambil berdasarkan bahasa secara mutlak karena Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang jelas, dengan membuang alternatif yang tidak tepat dalam Bahasa Arab.
  4. Pengambilan berdasarkan ucapan yang populer di kalangan orang Arab yang sesuai dengan ketentuan syara’.[8]

sumber :

https://net-poland.com/dungeon-5-apk/