Akhlak Kepada Allah

Akhlak Kepada Allah

               Titik  tolak  akhlak  terhadap  Allah  adalah  pengakuan   dan kesadaran  bahwa  tiada  Tuhan  melainkan  Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji; demikian agung sifat itu, yang  jangankan manusia, malaikat pun tidak akan mampu menjangkau hakikat-Nya.(2)

Itulah sebabnya mengapa Al-Quran  mengajarkan  kepada  manusia untuk    memuji-Nya,   Wa   qul   al-hamdulillah   (Katakanlah “al-hamdulillah”). Dalam  Al-Quran  surat  An-Nam1  (27):  93, secara tegas dinyatakan-Nya bahwa,

Dan katakanlah, “Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan.”

               Makhluk  tidak  dapat  mengetahui dengan  baik  dan  benar  betapa kesempurnaan dan keterpujian Allah  Swt.  Itu  sebabnya   mereka   –sebelum   memuji-Nya– bertasbih  terlebih  dahulu  dalam arti menyucikan-Nya. Jangan sampai  pujian  yang  mereka  ucapkan  tidak   sesuai   dengan kebesaran-Nya.    Bertitik    tolak   dari   uraian   mengenai kesempurnaan Allah, tidak heran kalau  Al-Quran  memerintahkan manusia  untuk  berserah  diri  kepada-Nya, karena segala yang bersumber dari-Nya adalah baik, benar, indah, dan sempurna.

Tidak sedikit ayat Al-Quran yang memerintahkan  manusia  untuk menjadikan Allah sebagai “wakil”. Misalnya firman-Nya dalam QS Al-Muzzammil (73): 9:

(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan melainkan Dia, maka jadikanlah Allah sebagai wakil (pelindung).

               Kata “wakil”  bisa  diterjemahkan  sebagai  “pelindung”.  Kata tersebut  pada  hakikatnya  terambil dari kata “wakkala-yuwakkilu” yang berarti mewakilkan. Apabila seseorang mewakilkan kepada orang  lain  (untuk  suatu persoalan),  maka  ia  telah  menjadikan  orang  yang mewakili sebagai dirinya sendiri dalam  menangani  persoalan  tersebut, sehingga  sang  wakil  melaksanakan  apa yang dikehendaki oleh orang yang menyerahkan perwakilan kepadanya.

               Menjadikan  Allah  sebagai  wakil  sesuai  dengan  makna  yang disebutkan   di  atas  berarti  menyerahkan  segala  persoalan kepada-Nya.  Dialah  yang  berkehendak  dan  bertindak  sesuai dengan   kehendak  manusia  yang  menyerahkan  perwakilan  itu

kepada-Nya.

               Allah Swt., yang kepada-Nya diwakilkan segala persoalan adalah Yang Mahakuasa, Maha Mengetahui, Mahabijaksana dan semua  maha yang   mengandung   pujian.   Manusia   sebaliknya,   memiliki keterbatasan pada segala hal. Jika  demikian  “perwakilan”-Nya pun berbeda dengan perwakilan manusia.

               Perbedaan   kedua   adalah   dalam   keterlibatan  orang  yang mewakilkan. Jika Anda mewakilkan orang lain  untuk  melaksanakan  sesuatu, Anda telah menugaskannya untuk melaksanakan hal tertentu. Anda tidak perlu melibatkan diri, karena hal itu  telah  dikerjakan oleh sang wakil. Ketika  menjadikan  Allah Swt. sebagai wakil, manusia dituntut untuk melakukan sesuatu yang berada dalam batas kemampuannya.

               Perintah   bertawakal    kepada    Allah    –atau    perintah menjadikan-Nya  sebagai  wakil– terulang dalam bentuk tunggal (tawakkal) sebanyak sembilan  kali,  dan  dalam  bentuk  jamak (tawakkalu)   sebanyak   dua  kali.  Semuanya  didahului  oleh

https://okabawes.co.id/mastergear-apk/